Tentang Saya
Selamat datang di laman pribadi saya. Saya Irvan Hutasoit, seorang teolog dan penulis yang berkomitmen untuk menghadirkan refleksi iman di tengah tantangan zaman modern.Melalui pelayanan dan tulisan, saya berupaya menjembatani pemahaman teologi dengan kehidupan nyata agar iman tidak berhenti pada konsep, melainkan mengalir menjadi tindakan kasih.
Pengalaman Kesederhanaan
Saya dilahirkan di sebuah desa kecil bernama Pakpahan, di Kecamatan Pangaribuan — sebuah tempat di mana embun pagi menetes perlahan di atas dedaunan kopi dan suara ayam jantan menjadi penanda awal kehidupan. Dari rahim seorang ibu yang tabah, Naemsi Pakpahan, saya belajar tentang arti kesetiaan dan ketulusan tanpa syarat. Sementara dari ayahku, Aser Hutasoit, seorang pendidik yang pernah menjadi Kepala Sekolah di SMP Negeri 1 Pangaribuan, aku mewarisi semangat untuk menanam pengetahuan seperti menanam padi: dengan sabar, telaten, penuh harapan, dan tulus.
Ibu mengajarkanku bahwa tangan yang kotor oleh tanah ladang adalah tanda kasih yang paling murni. Dari hari-hari yang ia habiskan di sawah, saya belajar, cinta tidak selalu diucapkan, tetapi dikerjakan — dalam peluh, dalam diam, dan dalam kesetiaan pada hidup yang sederhana. Di sanalah, di antara hamparan hijau dan udara pegunungan yang jernih, saya belajar, akar kehidupan bukanlah tentang di mana seseorang lahir, melainkan dari nilai-nilai yang tumbuh di tanah hatinya.
Dari Kampung Sederhana Hingga Metropolitan
Tahun 1992 menjadi tahun yang menandai sebuah persimpangan dalam perjalanan hidup kami. Saat itu, saya baru saja menamatkan pendidikan di SMP, dan pada waktu yang hampir bersamaan, ayah mengakhiri pengabdiannya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Masa pensiunnya bukan sekadar akhir dari sebuah profesi, melainkan awal dari babak baru bagi keluarga kami — sebuah masa untuk menata langkah dengan arah yang berbeda. Dengan doa dan harapan yang sederhana, keluarga memutuskan agar saya melanjutkan sekolah ke Jakarta — kota yang jauh dari heningnya sawah dan sejuknya udara Pangaribuan. Dari 1992 hingga 1995, saya menempuh pendidikan di SMA Katolik Ignatius Slamet Riyadi, Cijantung, Jakarta Timur. Di kota itulah saya belajar menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan yang cepat, menghadapi jarak yang memisahkan, dan merawat kenangan kampung halaman di tengah hiruk pikuk ibu kota. Di antara gedung-gedung tinggi dan jalanan yang ramai, saya mulai memahami arti perjuangan: bahwa setiap langkah menuju masa depan selalu berakar dari keberanian untuk meninggalkan kenyamanan masa lalu.
Setelah menamatkan pendidikan di SMA, saya melangkahkan kaki menuju Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta — sebuah ruang di mana pergumulan iman dan pemikiran bertemu dalam dinamika yang hidup. Di sana, perlahan namun pasti, arah dan warna orientasi teologis saya mulai terbentuk. Melalui kelompok-kelompok diskusi lintas kampus, saya menemukan daya tarik pada isu-isu sosial dan politik, terutama pada sisi-sisi kehidupan yang sering diabaikan atau disingkirkan. Sejak itu, saya memandang teologi bukan sekadar wacana tentang yang suci, tetapi juga sebagai suara keberpihakan terhadap yang terasing. Saya percaya bahwa teologi yang sejati harus berani menggugat kemapanan, menyoroti ketidakadilan, dan hadir di ruang-ruang di mana manusia merasa terasing — baik secara sosial, budaya, maupun spiritual. Dari pemahaman inilah saya terdorong untuk aktif dalam gerakan mahasiswa, terutama pada masa-masa penting antara 1998 hingga 2000, ketika suara perubahan menggema di seluruh negeri.
Namun, setiap pilihan memang menuntut konsekuensinya. Keterlibatan saya dalam berbagai aktivitas dan pergulatan intelektual membuat perjalanan studi menjadi lebih panjang dari yang direncanakan — 6,5 tahun, bukan lima tahun seperti seharusnya. Tetapi di dalam jeda itu, saya menemukan ruang refleksi yang berharga. Keterlambatan itu bukan sekadar soal waktu yang tertunda, melainkan proses pematangan — sebuah perjalanan batin untuk memahami bahwa kedewasaan rohani tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari kedalaman pengalaman.
Pada akhir tahun 2001, saya menamatkan studi di STT Jakarta dengan membawa keyakinan bahwa teologi bukan hanya untuk dipahami, melainkan untuk dihidupi — menjadi napas dalam pergulatan sosial, politik, dan kemanusiaan. Posisi teologis itu kemudian menemukan bentuk akademisnya melalui skripsi berjudul "Pengampunan dan Rekonsiliasi", yang melakukan eksplorasi mendalam Etika Politik Kristen di tengah gonjang-ganjing peralihan Orde Baru ke Orde Reformasi. Melalui karya itu, saya menegaskan, teologi harus hadir di tengah sejarah, bukan di menara gading; menjadi suara yang menyembuhkan di antara luka bangsa, dan menjadi cahaya kecil di tengah kabut perubahan yang sering kali penuh ketegangan.
Pulang Kembali ke Rahim Iman
Setelah menamatkan studi di STT Jakarta, sebuah babak baru kehidupan pun dimulai — babak yang tidak lagi hanya berbicara tentang pemikiran, tetapi tentang pengabdian nyata. Saya memilih untuk kembali ke rahim gereja yang telah menanamkan benih iman sejak awal, yaitu GKPI. Keputusan itu saya ambil setelah melalui pergumulan batin yang mendalam, hingga akhirnya saya membatalkan rencana melanjutkan studi pascasarjana di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta.
Enam bulan pertama, dari Januari hingga Juni 2002, saya menjalani masa pelayanan sebagai tenaga pelayan sukarela di GKPI Jemaat Khusus Lubuk Pakam Kota. Dengan gaji Rp100.000 per bulan, saya belajar bahwa pelayanan sejati tidak diukur dari besarnya imbalan, melainkan dari ketulusan hati yang mau hadir bagi sesama. Setiap kunjungan, doa, dan perjumpaan dengan jemaat menjadi pelajaran hidup tentang kasih yang bekerja dalam kesederhanaan.
Pada Juni 2002, saya diterima secara resmi sebagai Vikar GKPI dan tetap melayani di GKPI Lubuk Pakam Kota. Di sinilah saya ditempa dalam kehidupan pastoral yang nyata — mendengar pergumulan umat, menyalakan harapan di tengah kepenatan, dan belajar menggembalakan dengan kelembutan. Hingga akhirnya, pada 25 Juni 2004, di GKPI Lima Puluh, saya menerima tahbisan Pendeta. Hari itu menjadi tonggak suci, bukan sekadar pengakuan jabatan, tetapi peneguhan panggilan: bahwa hidup saya sepenuhnya adalah untuk melayani Tuhan dan umat-Nya, dengan hati yang terus belajar, rendah, dan setia.
Berkawan Debu, Berkarib Lumpur, dan Belahan Hati
Pada Oktober 2004, saya menerima penempatan sebagai Pendeta di GKPI Resort Sonomartani, Labuhan Batu. Awal pelayanan di tempat itu bukanlah perjalanan yang mudah. Daerahnya terpencil, dan jalan menuju jemaat rusak berat. Ketika musim kemarau, debu tebal menjadi teman perjalanan yang menutupi pandangan. Namun saat musim hujan, lumpur dan jalan licin berganti peran sebagai sahabat setia yang harus dihadapi dengan kesabaran.
Di tengah segala keterbatasan itu, saya justru menemukan makna terdalam dari panggilan tahbisan. Di Sonomartani, saya belajar bahwa menjadi pendeta bukanlah tentang kenyamanan atau penghargaan, melainkan tentang kesediaan untuk hadir, bahkan ketika jalan menuju pelayanan penuh debu dan lumpur. Di sanalah saya ditempa oleh kesunyian, kesederhanaan, dan ketulusan umat, hingga semakin memahami bahwa panggilan ini bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dunia, demi kemuliaan Tuhan.
Selama lima tahun dua bulan, saya bersahabat dengan situasi yang keras namun penuh kasih itu. Setiap perjalanan pastoral, setiap pertemuan di rumah jemaat yang sederhana, dan setiap ibadah di tengah keterbatasan menjadi saksi bahwa kemuliaan Tuhan sering kali berdiam dalam tempat-tempat yang jauh dari sorotan, tetapi dekat dengan hati yang tulus.
Selama masa pelayanan di GKPI Resort Sonomartani, Tuhan menghadirkan sebuah anugerah yang mengubah arah perjalanan hidup saya. Di tengah ladang pelayanan yang sederhana, saya mempersunting seorang gadis bernama Jusnita Situmorang menjadi istri. Kami telah saling mengenal sejak masa saya menjadi Vikar di GKPI Lubuk Pakam Kota, pertemuan yang awalnya biasa, namun perlahan berakar dalam panggilan yang sama untuk melayani. Dia adalah seorang Guru Sekolah Minggu, sekaligus pengajar Koor Pemuda/i di GKPI Lubuk Pakam Kota.
Jusnita Situmorang adalah Sarjana Pendidikan Jurusan Kimia dari Universitas Negeri Medan (Unimed), dan sebelum menikah, ia mengabdikan diri sebagai guru di SMA Katolik Serdang Murni, Lubuk Pakam. Namun sebelum kami mengikat janji, kami sepakat dalam doa dan pengertian bersama: ia akan meninggalkan profesinya sebagai guru, agar dapat mendampingi saya sepenuhnya di mana pun pelayanan memanggil. Keputusan itu bukan perkara ringan — ada harga yang harus dibayar, baik secara pribadi maupun profesional.
Namun, bagi saya, seorang istri pendeta bukan sekadar ibu di rumah tangga, melainkan juga ibu bagi jemaat yang dilayani. Kehadiran seorang pendeta di tengah umat akan terasa timpang tanpa kehadiran sosok yang menghadirkan kehangatan kasih seorang ibu bagi jemaat. Dalam hal itu, saya melihat pelayanan pendeta sebagai sesuatu yang melampaui profesi; ia menyentuh dimensi kekudusan, karena di balik setiap tahbisan terdapat panggilan untuk menghadirkan kasih Allah yang hidup melalui kehidupan sehari-hari — bersama, dalam suka dan duka, untuk kemuliaan-Nya.
Selama lima tahun dua bulan kami melayani di GKPI Resort Sonomartani, Tuhan belum menganugerahkan kepada kami seorang anak. Masa itu menjadi penantian terpanjang dalam hidup kami — penantian yang hening, penuh doa, dan kadang diwarnai dengan tanya yang hanya bisa dijawab oleh iman. Kami memahami bahwa kehadiran anak dalam keluarga adalah anugerah, bukan hasil usaha semata; ia datang bukan karena kehendak manusia, melainkan karena kasih dan waktu Tuhan sendiri.
Namun dalam setiap malam doa dan setiap ibadah keluarga yang sederhana, kami belajar bahwa pengharapan yang sejati tumbuh dari kesetiaan. Di tengah ladang pelayanan yang jauh dari keramaian, kami terus belajar untuk bersyukur atas setiap hari yang diberikan. Kami menanam kasih, bukan hanya untuk anak yang belum lahir, tetapi untuk jemaat yang sudah Tuhan percayakan. Ketika masa pelayanan kami di GKPI Resort Sonomartani berakhir, kami meninggalkan tempat itu dengan hati yang dipenuhi rasa syukur — bukan karena semua doa telah terjawab, melainkan karena kami telah belajar mengasihi tanpa syarat dan menunggu tanpa kehilangan iman.
Tiang yang Rapuh dan Harapan yang Terjawab
Pada tahun 2009, saya menerima Surat Keputusan dari Pimpinan Sinode GKPI (saat itu masih disebut Pimpinan Pusat) untuk melanjutkan pelayanan di GKPI Jemaat Khusus Saroha, Doloksanggul. Saat itu, saya menyadari, sebuah babak baru pelayanan dimulai — dari melayani dalam lingkup Resort, kini beralih menjadi Jemaat Khusus. Artinya, saya tidak lagi melayani banyak jemaat dalam satu kesatuan, melainkan mencurahkan seluruh tenaga dan hati hanya untuk satu jemaat.
Ketika tiba di GKPI Jemaat Khusus Saroha, saya menjumpai gereja yang masih berdinding papan — bangunan sederhana yang berdiri di atas luka sejarah, karena jemaat ini lahir dari perpecahan GKPI Doloksanggul Kota. Suatu kali, menjelang Natal 2010, saya melihat bagian dalam dinding gereja yang dilapisi tripleks, dan saya terkejut menemukan bahwa tiang-tiang penyangganya sudah lapuk. Jika tidak segera diperbaiki, bangunan itu bisa roboh kapan saja.
Namun, persoalan yang muncul bukan hanya teknis, melainkan teologis dan pastoral. Di satu sisi, gereja perlu rehabilitasi total yang menuntut biaya besar. Di sisi lain, saya tahu bahwa sebagian besar anggota jemaat adalah petani dengan keterbatasan ekonomi. Kami berdiskusi panjang, memikirkan langkah terbaik. Semangat jemaat sempat menyala, lalu meredup kembali ketika sadar bahwa dana yang dibutuhkan tidak sedikit.
Dalam doa dan pergumulan, saya menemukan jawaban sederhana namun dalam maknanya: kekayaan gereja bukan pada uang, melainkan pada persekutuan. Saya berkata kepada jemaat, “Selama doa masih dipanjatkan, nyanyian dikumandangkan, dan firman Tuhan diberitakan, mustahil jemaat ini berkekurangan.” Dari kesadaran itulah kami memulai pembangunan gereja — dengan semangat kebersamaan dan iman yang teguh, bukan dengan modal besar. Selama tiga tahun (2011–2014), gereja itu akhirnya berdiri megah, dua lantai: lantai pertama sebagai fasilitas pembinaan — yang kemudian dikembangkan menjadi unit PAUD oleh penerus saya, Pdt. Dirgos Lumbantobing, dan lantai kedua sebagai ruang ibadah berkapasitas 600 orang.
Ketika saya meninggalkan GKPI Saroha setelah menerima SK mutasi, masih ada hutang Rp80 juta, namun itu hanyalah sisa dari pembangunan senilai Rp1,7 miliar, sebagian besar berasal dari jerih lelah dan persembahan anggota jemaat sendiri. Saya percaya, di balik angka itu ada kisah iman, kerja sama, dan cinta yang tidak ternilai.
Di GKPI Saroha pula, doa dan penantian panjang kami berbuah. Tuhan menganugerahkan dua putra — Rahmat Putra Saroha Hutasoit dan Paskah Aprilio Hutasoit. Mereka lahir di tengah-tengah kesibukan pembangunan gereja, pada masa ketika kami harus mengatur setiap rupiah dengan hati-hati. Meski tunjangan pelayanan dipangkas demi efektivitas anggaran, kebutuhan mereka tak pernah terabaikan. Saya masih ingat, setiap kali menerima gaji dari Kantor Sinode GKPI — yang mulai menerapkan sistem sentralisasi penggajian sejak 2011 — hal pertama yang saya lakukan adalah membeli susu instan untuk mereka.
Laboratorium Teologi dan Pastoral
Pada tahun 2015, saya menutup bab pelayanan di GKPI Saroha. Melalui keputusan Pimpinan Sinode, saya dipindahkan menjadi Pendeta di GKPI Jemaat Khusus Rawamangun, Jakarta. Rasanya seperti melompat dari ibu kota kabupaten ke ibu kota negara — dari kesunyian Doloksanggul ke hiruk-pikuk Jakarta. Namun di balik perubahan besar itu, saya bersyukur: tidak ada persoalan serius yang harus kami hadapi, karena kedua anak kami masih Balita, dan kami sekeluarga dapat memulai lembaran baru pelayanan dengan hati yang tenang.
Ketika pertama kali memasuki gerbang pekarangan GKPI Rawamangun, saya terpaku melihat gedung gereja yang megah dengan halaman parkir yang luas — pemandangan yang jarang dijumpai di tengah padatnya Jakarta. Saat itu, usia saya baru 38 tahun, usia yang masih muda untuk memimpin sebuah jemaat besar dengan dinamika dan kompleksitas pelayanan yang tinggi. Sekejap, keraguan menyelinap dalam hati: "Mampukah saya melayani di tempat sebesar ini?" Namun, seperti panggilan yang selalu datang tanpa menunggu kesiapan, saya tahu, babak baru pelayanan telah dimulai.
Di masa awal pelayanan di Rawamangun, fokus utama kami justru bukan pada gereja, melainkan pada anak pertama kami, yang mengalami speech delay. Selama dua bulan pertama, hampir seluruh perhatian kami tercurah untuk terapi dan pendampingan anak. Dua kali dalam seminggu, kami mengantarnya ke tempat terapi, menyaksikannya dari balik pintu ketika ia berjuang bersama terapis. Kadang, tangisnya mengguncang hati kami, sementara kami hanya bisa meneteskan air mata tanpa boleh masuk ke ruangan. Dua bulan penuh kami jalani dengan kesabaran dan doa, hingga akhirnya ia kami daftarkan di sebuah PAUD, sebagai langkah lanjut dalam proses tumbuh kembangnya.
Pelayanan di GKPI Rawamangun menjadi momentum pembelajaran pastoral yang baru. Jika di jemaat-jemaat sebelumnya pelayanan pastoral banyak berpusat pada pendampingan dan motivasi, maka di sini pastoral bergeser ke arah pengajaran teologis dan reflektif. Saya segera menyadari bahwa jemaat di Rawamangun memiliki akses luas terhadap sumber pengajaran dari berbagai gereja dan media digital, sehingga tantangan pastoral bukan lagi sekadar menguatkan, melainkan menuntun dan meneguhkan iman di tengah pluralitas ajaran. Saya berkesimpulan bahwa pastoral sejati adalah kemampuan teologis seorang pendeta dalam merespons problem spiritualitas jemaat dengan kedalaman iman dan ketajaman refleksi.
Jika di tempat sebelumnya fokus pelayanan saya adalah pembangunan fisik gereja, maka di Rawamangun fokus itu bergeser menjadi pembangunan manusia dan pembinaan iman. Bersama Majelis Jemaat, kami memutuskan untuk memprioritaskan program pembinaan, meski konsekuensinya anggaran gereja terserap cukup besar ke bidang itu. Salah satu program yang tidak lazim di GKPI namun kami jalankan adalah Sermon Pemain Musik dan Pemandu Nyanyian, di mana saya memberikan pengajaran sejarah nyanyian gereja sekaligus penjelasan teologis tentang makna setiap lagu. Saya percaya, musik gereja bukan sekadar iringan ibadah, melainkan sarana pengajaran iman yang hidup.
Pelayanan di Rawamangun juga menjadi ruang belajar manajemen gereja yang sesungguhnya. Saya belajar perencanaan, monitoring, dan evaluasi pelayanan, bahkan mendalami akuntansi gereja nir-laba secara mandiri. Ketika gereja mulai beralih ke sistem digital, saya pun menyesuaikan diri: mengelola program, anggaran, dan data jemaat berbasis teknologi. Proses ini menumbuhkan kebiasaan baru dalam diri saya: tidak ada waktu yang terbuang; setiap waktu adalah kesempatan untuk belajar. Belajar menjadi cara saya menjaga panggilan tetap segar dan relevan. Bagi saya, GKPI Rawamangun adalah Laboratorium Teologi dan Pastoral yang menyadarkan, tahbisan Pendeta adalah proses belajar yang tidak ada hentinya.
Momentum pelayanan di Rawamangun juga membuka kembali impian lama yang sempat tertunda: melanjutkan studi pascasarjana. Setelah menimbang waktu dan tanggung jawab pelayanan, saya tidak jadi melanjutkan ke STF Driyarkara, melainkan memilih STT Cipanas, yang lebih memberi ruang fleksibilitas bagi pelayan aktif. Tahun 2016, saya resmi memulai studi pascasarjana di sana — sebuah langkah kecil yang membawa makna besar dalam perjalanan teologis saya. Pada tahap inilah lahir kebiasaan baru bagi saya. Perjalanan pelayanan harus ditafsir dan dipahami melalui kaidah-kaidah akademis, sebab dengan cara itulah lahir kebiasaan baru, yaitu objektif memahami setiap realitas.
Lima tahun kemudian, pada tahun 2020, tepat satu bulan sebelum pandemi Covid-19, saya menutup pelayanan di GKPI Rawamangun. Keputusan mutasi ke GKPI Resort Saitnihuta, Tarutung, Tapanuli Utara, sempat menimbulkan pertanyaan dari banyak pihak. Dari Jakarta ke Tarutung — dari pusat metropolitan menuju tanah kelahiran gereja — seolah menjadi perjalanan mundur di mata sebagian orang. Namun bagi kami sekeluarga, panggilan tidak diukur oleh lokasi, melainkan oleh kesetiaan.
Saya, istri, dan anak-anak menerima keputusan itu dengan lapang dada. Bagi kami, prinsipnya sederhana: di mana ada GKPI, di sanalah kami melayani. Karena pelayanan bukan soal besar atau kecilnya tempat, melainkan seberapa sungguh kita menghadirkan Tuhan di setiap tempat yang kita pijak.
Belajar Setia di Tengah Sunyi
Perjalanan dari Jakarta menuju Tarutung kami tempuh melalui jalan darat. Saya sendiri yang menyetir, ditemani isteri dan dua anak kami. Lima hari lamanya kami menyusuri jalan lintas timur yang terik dan panjang, melintasi kota demi kota, membiarkan waktu berbicara di antara suara mesin dan doa yang terucap lirih. Di setiap tikungan jalan, ada perasaan yang mesti dikelola—antara harapan dan kecemasan—karena kami tahu, di ujung perjalanan ini, konteks pelayanan akan sangat berbeda.
Belum genap sebulan sejak serah terima di GKPI Resort Saitnihuta, dunia tiba-tiba terdiam oleh pagebluk global. Ibadah ragawi berhenti, perjumpaan dibatasi, dan suara lonceng gereja tergantikan oleh kesunyian yang menggema di dalam rumah-rumah. Saya belum sempat mengenal jemaat, namun saya sudah belajar tentang bentuk baru dari kesepian pelayanan. Di tengah keheningan itu, Tuhan mengajar saya untuk tetap setia walau langkah terasa berat.
Di masa yang sama, tubuh saya pun diuji. Batu empedu yang harus dioperasi membawa saya ke rumah sakit di Medan, sementara kedua anak kami harus dititipkan pada keluarga jemaat di Doloksanggul. Dalam setiap panggilan video, mata saya basah oleh rindu yang tak tersentuh. Jarak memisahkan kami, namun kasih memeluk dari kejauhan. Dalam ruang sakit, saya belajar, bahwa pelayanan bukan hanya tentang berdiri di mimbar, tetapi juga tentang belajar menerima kelemahan dan tetap percaya pada penyertaan Tuhan.
Di tengah pagebluk, kami mulai merintis pelayanan daring. Dengan bantuan seorang anggota jemaat GKPI Rawamangun yang bekerja di PT. Telkom, jaringan internet disambungkan ke rumah dinas pendeta. Dari ruang sederhana itu, ibadah disiarkan melalui YouTube dengan peralatan seadanya. Gambar kadang buram, suara tak selalu jernih, namun di balik segala keterbatasan itu, ada nyala kecil iman yang terus menyala. Dari kerapuhan, kami belajar melangkah bersama.
Tidak hanya ibadah yang berubah. Anak-anak jemaat—dari SD hingga mahasiswa—terpaksa belajar dari rumah tanpa fasilitas yang memadai. Melihat pergumulan mereka, kami memanfaatkan ruang kosong di atas rumah dinas menjadi tempat belajar daring. Bantuan datang dari jauh: empat laptop bekas dari keluarga jemaat GKI Kebayoran Baru. Dari ruangan kecil itu, anak-anak kembali tertawa dan bersemangat menulis tugas. Gereja menjadi ruang belajar, dan kasih menjadi jaring yang menopang masa depan mereka.
Di tengah semua itu, Tuhan mengizinkan saya menuntaskan studi Magister Teologi di STT Cipanas, yang telah saya mulai sejak 2016. Mei 2020 menjadi tanda bahwa anugerah selalu datang tepat waktu, bahkan ketika dunia terasa tidak pasti. Tak lama berselang, kesempatan baru terbuka: STFT Jakarta membuka program Doktor Teologi secara daring. Saya mengambil langkah iman itu dan diterima pada tahun 2021.
GKPI Resort Saitnihuta memberi dukungan penuh. Guru Jemaat GKPI Dame Dr. IL. Nomensen, Pnt. Jekson Lumbantobing, dengan setia membantu pelayanan agar saya dapat fokus belajar. Hari-hari saya jalani dengan membaca, menulis, dan merenung, hendak membuktikan bahwa kesetiaan tidak diukur dari tempat seseorang berdiri, melainkan dari bagaimana ia tetap berjuang dalam keterbatasan.
Perjalanan Baru Kembali Dimulai
Tahun 2025, babak baru pelayanan kembali dibuka. Surat mutasi dari GKPI Resort Saitnihuta membawa saya menuju GKPI Jemaat Khusus Air Bersih, Medan. Air mata tidak dapat ditahan ketika hari perpisahan tiba. Saitnihuta bukan sekadar tempat pelayanan, melainkan ruang hidup di mana doa, perjuangan, dan air mata telah membentuk banyak kisah iman. Kampung kecil di pinggiran Tarutung itu seperti rahim yang melahirkan kembali kesetiaan saya dalam panggilan pendeta. Saat bus melaju meninggalkan Saitnihuta, pandangan saya tertuju pada jendela, pada pemandangan yang perlahan menjauh, seolah saya sedang berpamitan pada sebagian dari diri saya sendiri.
Januari 2025, saya mengawali pelayanan di GKPI Jemaat Khusus Air Bersih. Suasana baru, jemaat baru, dan ritme hidup yang juga baru. Namun di balik semua itu, ada pergulatan besar yang harus saya selesaikan—Disertasi yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan studi saya di STFT Jakarta. Sejak akhir Januari hingga April, hari-hari saya diisi dengan pelayanan dan penelitian. Waktu terasa menipis. Siang berganti malam, malam berganti dini hari, dan di antara keduanya hanya ada layar laptop yang menyala, buku-buku yang terbuka, dan doa yang berulang kali terucap dalam hati.
Tidak mudah menuntaskan karya ilmiah yang harus memuat sesuatu yang baru, sesuatu yang menambah warna dalam jagat teologi. Saya tahu, setiap kalimat harus melewati doa; setiap argumen harus menembus batas rasionalitas agar tetap berakar pada iman. Di titik itu, saya belajar bahwa teologi bukan sekadar ilmu, tetapi perjalanan batin yang panjang untuk mengenal Allah dengan lebih dalam.
Tanggal 29 Mei 2025 menjadi hari yang tidak akan saya lupakan. Hari itu, saya duduk di hadapan empat dosen penguji untuk mempertanggungjawabkan Disertasi saya. Tidak lagi melalui layar, tetapi secara ragawi, tatap muka, di ruang yang pernah menjadi saksi langkah awal saya dalam dunia teologi. Saya datang bersama isteri, satu-satunya orang yang paling tahu bagaimana setiap malam telah diisi dengan kerja keras, air mata, dan doa.
Ujian itu saya jalani dengan hati berdebar. Setiap pertanyaan yang datang, saya jawab dengan tenang, seolah seluruh perjalanan panjang saya di pelayanan ikut berbicara dari balik pengalaman. Hingga akhirnya, keputusan itu disampaikan: saya dinyatakan lulus. Tidak ada sorak, tidak ada tepuk tangan meriah, hanya keheningan dan rasa syukur yang menetes menjadi air mata.
Ketika dinyatakan lulus, benak saya menerawang pada proses studi Doktoral. Tidak ada donatur yang tetap, seperti yang lain ketika menjalani studi Doktoral. Yang ada hanya orang-orang baik, yang setiap semester menyatakan dukungan finansial demi kelanjutan studi. Delapan semester saya lalu, seolah berada di ujung persimpangan, antara kepastian dan ketidakpastian. Ketidakpastian ketika belum ada bayangan biaya ketika mengawali semester baru; kepastian sebab ada harapan bahwa saya dikelilingi oleh orang-orang baik. Di delapan semester itu pula saya diajarkan makna Pengharapan.
Tanggal 20 September 2025, saya diwisuda di STFT Jakarta. Sepertinya ada rasa yang terpuaskan, sebab baru kali ini saya mengikuti inagurasi ketika mengakhiri masa studi. Ketika saya menyelesaikan Sarjana Teologi dan Magister Teologi, saya tidak ikut serta dalam wisuda. Target saya pun tercapai yaitu IP tertinggi saya sejak memulai belajar teologi dari Strata 1 hingga Strata 3, 3,75. Kami berempat berangkat ke Jakarta. Dalam benak, proses wisuda menjadi motivasi bagi kedua anak saya—bahwa tidak ada yang sia-sia jika segala tugas dan peran dijalankan dengan integritas.
Setelah wisuda, saya kembali ke GKPI Air Bersih. Di sanalah pelayanan saya lanjutkan. Saya tidak tahu sampai kapan. Yang pasti, selama melayani di sini, komitmen dan integritas dalam pelayanan akan tetap saya upayakan. Saya juga berharap, jemaat ini menjadi jodoh pelayanan saya, sama seperti jemaat-jemaat lainnya yang pernah saya layani.
Mendaki Gunung Terjal
Tahun 2025 menjadi babak penting dalam perjalanan saya di GKPI. Sinode Am Periode (SAP) XXIV dilaksanakan, dan di dalamnya akan dipilih para fungsionaris untuk masa pelayanan 2025–2030. Pada kesempatan itu, saya memutuskan untuk mengajukan diri sebagai Bakal Calon Sekretaris Jenderal GKPI. Keputusan ini bukan muncul tiba-tiba. Sejak tahun 2023, pada saat pelaksanaan Sinode Am Kerja XXIII, saya telah meneguhkan niat untuk berpartisipasi dalam proses itu, dengan tekad memberi kontribusi baru bagi arah pelayanan GKPI ke depan.
Namun, perjalanan menuju SAP XXIV tidaklah mudah. Ada dua hal utama yang membatasi ruang gerak saya. Pertama, padatnya pelayanan yang sedang saya jalankan. Kedua, kemampuan finansial yang terbatas. Karena itu, saya tidak bisa leluasa melakukan promosi diri dengan cara bertemu langsung ke berbagai daerah seperti yang umumnya dilakukan kandidat lain. Sebagai alternatif, saya menempuh strategi yang saya sebut “serangan udara” — memperkenalkan gagasan dan visi pelayanan melalui media sosial. Cara ini mungkin tidak lazim di lingkungan GKPI, tetapi saya percaya, media digital adalah ruang baru yang perlu dimanfaatkan untuk komunikasi pelayanan.
Menjelang pelaksanaan SAP XXIV, Majelis Jemaat GKPI Air Bersih memberangkatkan saya dengan doa. Tidak ada publikasi besar, tidak ada seremoni meriah. Semuanya sederhana, penuh ketulusan dan kasih. Sebelumnya, GKPI Pakpahan — jemaat yang menjadi ibu rohani saya — juga telah memberangkatkan saya dengan cara serupa. Dalam suasana doa pemberangkatan di GKPI Air Bersih, saya menyampaikan tiga prinsip yang saya pegang sebagai landasan batin: Jika menang tidak tinggi hati, jika kalah tidak rendah diri, dan hati yang bijak menerima semua situasi. Bagi saya, prinsip itu penting agar tetap merdeka dalam menghadapi hasil — merdeka dari ambisi pribadi, dan merdeka dari rasa kecewa.
SAP XXIV GKPI dilaksanakan pada 14–19 Oktober 2025. Saya mengikuti seluruh proses dengan semangat dan kesadaran penuh. Saya tidak memiliki dukungan logistik besar, sehingga pertemuan-pertemuan saya lebih bersifat personal. Setiap malam diisi dengan percakapan kecil bersama beberapa orang, bahkan dengan mereka yang mungkin tidak akan memilih saya. Di sela-sela waktu sendiri di kamar penginapan, saya tetap melanjutkan “serangan udara” melalui media sosial, membagikan gagasan tentang arah baru pelayanan GKPI.
Dalam proses itu, saya juga harus menghadapi dua isu yang cukup kuat berkembang. Pertama, anggapan bahwa pencalonan saya hanya sebatas uji elektabilitas. Kedua, pendapat bahwa saya masih terlalu muda untuk menduduki jabatan Sekretaris Jenderal, karena saat itu saya berusia 48 tahun. Saya menjawab isu-isu itu dengan tenang. Saya menjelaskan bahwa langkah saya bukan sekadar uji coba, tetapi bentuk keseriusan untuk menghadirkan pembaruan di tubuh gereja. Salah satu gagasan utama saya adalah membangun Big Data GKPI — sistem informasi yang terintegrasi untuk mendukung implementasi Rencana Strategis GKPI 2025–2030. Saya percaya, inovasi seperti ini hanya bisa dikerjakan oleh generasi yang memiliki semangat dan daya cipta baru.
Proses penjaringan pun berlangsung. Pada tahap penjaringan di kalangan pendeta, saya memperoleh 35 suara. Lalu, pada pemilihan tahap pertama, jumlah suara meningkat menjadi 72. Namun, pemilihan harus dilanjutkan karena belum ada kandidat yang mencapai ketentuan ½n + 1. Pada tahap kedua, saya tidak lagi ikut serta karena hanya dua kandidat dengan perolehan tertinggi yang melanjutkan proses.
Dengan hasil itu, rencana saya menjadi Sekretaris Jenderal GKPI Periode 2025–2030 tidak terwujud. Tetapi bagi saya, setiap suara yang saya terima memiliki nilai yang sangat berharga. Suara-suara itu tidak lahir dari pendekatan emosional, melainkan dari kepercayaan terhadap ide dan visi yang saya tawarkan. Saya menyimpulkan bahwa dukungan tersebut adalah bentuk pilihan ideologis, bukan transaksional.
Pengalaman ini menegaskan satu hal penting: bahwa pelayanan bukan semata tentang posisi, tetapi tentang kontribusi. Saya tidak memandang hasil SAP XXIV sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan rohani dan pelayanan yang memperdalam pengertian saya tentang pengabdian. Mungkin “serangan udara” itu tidak menjatuhkan kemenangan politik, tetapi menanamkan benih gagasan yang suatu hari akan tumbuh bagi masa depan GKPI.
Ketika Angka Menjadi Cermin Pengabdian
Setiap proses memiliki maknanya sendiri. Tidak semua hasil harus diukur dari kemenangan, sebab ada kemenangan yang lahir bukan dari suara mayoritas, melainkan dari keteguhan hati menjalani panggilan. SAP XXIV memberi saya pelajaran yang jauh lebih berharga daripada jabatan: pelajaran tentang kejujuran dalam niat, kesabaran dalam perjalanan, dan kebebasan dalam batin.
Ketika proses pemilihan usai, saya tidak merasa kalah. Saya justru merasa pulang membawa sesuatu yang utuh—sebuah keyakinan bahwa ide, integritas, dan ketulusan tidak pernah hilang jejaknya. Ia mungkin tidak berbuah seketika, tetapi akan tumbuh di ruang-ruang waktu yang disiapkan Tuhan sendiri.
Dalam perjalanan pulang ke Medan, di dalam mobil yang saya kemudikan sendiri menapaki setiap jengkal jalan raya, saya memandang ke luar jendela. Kenderaan yang lalu lalang seperti perjalanan hidup yang bergerak, mengingatkan saya, langkah kehidupan harus dilanjutkan sekaligus bermakna di mata Tuhan. Saya teringat kembali pada semua orang yang telah memberi doa, dukungan, dan keyakinan. Mereka adalah bagian dari perjalanan rohani saya, mereka yang percaya bukan karena saya, tetapi karena visi yang kami bawa bersama.
Kini, setelah semua proses itu berlalu, saya semakin memahami arti merdeka dalam panggilan. Merdeka untuk memberi yang terbaik tanpa menuntut balasan. Merdeka untuk melayani tanpa harus menduduki posisi. Dan merdeka untuk tetap bermimpi bagi GKPI, walau langkah yang ditempuh harus sederhana.
Saya percaya, setiap proses yang dijalani dengan hati yang tulus adalah bagian dari liturgi kehidupan. Dan di altar panggilan itu, saya ingin tetap mempersembahkan diri: tidak sebagai pemenang, tetapi sebagai pelayan yang tetap setia berjalan di jalan pengabdian.