PADA MULANYA
GERBANG KAMPUS PROKLAMASI
Tahun 1995 adalah awal langkahku memasuki galaksi pengetahuan yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Ketika Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas)—ujian penutup perjalanan pendidikan dari SD hingga SMA—mencapai akhir, aku dihadapkan pada sebuah pertanyaan menentukan: ke mana saya akan melanjutkan studi setelah meninggalkan bangku SMA? Menjadi Pendeta adalah jalan yang kuhasrati, meski godaan untuk menjelajahi Ilmu Geologi sangat menggugah hati. Jika jalanku adalah menjadi Pendeta, maka langkah berikutnya adalah mencari sekolah yang tepat untuk meraih ilmu Teologi, sebagaimana disarankan oleh keluarga. Namun bagiku, Teologi masih merupakan ilmu yang misterius. Saya bahkan kesulitan membedakan antara Teologi dan Teknologi. Orang tuaku bukanlah Pendeta atau Penatua gereja, maka pemahamanku tentang hal ini terbatas.
Dalam kebingungan memilih di antara banyaknya sekolah Teologi, akhirnya aku memutuskan untuk menambatkan tali pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta setelah meminta rekomendasi dari GKPI yang saat itu ditandatangani oleh Pdt. RMG. Marbun (Bishop GKPI).
Persiapan pun dilakukan, termasuk mengikuti kursus intensif Bahasa Inggris. Latar belakangku dari Pangaribuan hingga kelas tiga SMP Negeri 1 Pangaribuan membuatku seorang penutur asli bahasa Batak. Bahasa Inggris adalah hal baru bagiku, bahkan Bahasa Indonesia pun masih terasa asing ketika aku pertama kali tinggal di Jakarta untuk melanjutkan sekolah di SMA Katolik Ignatius Slamet Riyadi, Jakarta Timur. Kelemahan ini mendorongku untuk menjalani kursus Bahasa Inggris yang ketat, karena kabarnya, kemampuan Bahasa Inggris adalah salah satu syarat utama di STT Jakarta.
Di bulan Juni 1995, setelah ujian masuk, STT Jakarta mengumumkan kelulusan. Saya dinyatakan lulus dan tercantum pada urutan keempat. Sampai hari ini, saya tidak tahu mengapa berada pada urutan keempat—apakah karena nilai tertinggi atau faktor lain. Yang pasti, kelulusan merupakan langkah awal memasuki gerbang Kampus Proklamasi, nama yang sering disematkan pada STT Jakarta.
FASE BARU DIMULAI
Mengawali masa studi di kampus ini menimbulkan rasa kaget yang tidak terkatakan. Bayangan awal bahwa di kampus inilah para calon pendeta akan belajar. Berangkat dari figur para pendeta yang begitu anggun, berwibawa, dan lembut berdiri di altar, tentunya hal itu juga yang tampak di kampus ini. Ternyata hati sangat masygul. Mengapa tidak, di hari pertama Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek), saya sudah dibentuk oleh senior-senior yang budiman.
Enam hari lamanya kami mahasiswa baru mendapat tekanan mental. Bagi saya yang baru lulus dari SMA dan langsung menginjakkan perjalanan baru ke jenjang Perguruan Tinggi, masa enam hari itu sangatlah mencekam karena tiada hari tanpa kemarahan dan bentakan para senior. Memandang wajah senior pun ibarat melihat monster dan zombi.
Di akhir masa Ospek, yaitu malam di hari kelima, kami memasuki apa yang disebut dengan Jalan Salib. Kali ini, perhentian bukan 14 sebagaimana perhentian Yesus pada Jalan Salib. Perhentiannya hanya lima. Dari perhentian pertama hingga keempat adalah masing-masing angkatan di atas kami. Mata kami ditutup selama empat perhentian itu. Kami diseret dan suara keras sungguh dekat di kuping kami. Syukur tidak ada pukulan atau tendangan yang menyakiti fisik kami.
Setelah melalui empat perhentian, kami dikumpulkan di area roof top kampus STT Jakarta. Kami didudukkan membentuk lingkaran dan diperintahkan untuk membuka penutup mata. Di hadapan kami telah menyala api unggun. Pikiran menerawang dan menduga-duga, apa lagi yang akan terjadi? Apakah kecekaman pada empat perhentian sebelumnya akan terulang lagi pada perhentian kali ini?
Di luar dugaaan, situasi pada perhentian kelima ini berbanding terbalik dengan empat perhentian sebelumnya. Pada perhentian kelima ini, wajah para senior sangatlah sejuk dan penuh kedamaian. Lagu-lagu pun diputar, yaitu lagu yang sebelumnya masih asing bagi saya. Lagu itu penuh dengan kesejukan dan membawa ketenangan batin. Kemudian hari, saya mengenal bahwa lagu itu berasal dari Taize. Saya masih mengingat bahwa lagu yang pertama diputar berjudul Jesus, Remember Me.
Dari ujung barisan, saya melihat para senior mulai bergiliran membasuh kaki kami masing-masing. Ada rasa enggan, maklum sudah enam hari kami dilarang mengganti kaos kaki. Sudah dipastikan ada aroma yang tidak menyenangkan bagi hidung. Mungkin saja menimbulkan rasa mual. Aroma itu tidak menyurutkan para senior untuk membasuh kaki kami, lantas mencium kaki yang beraroma itu. Dapat dipastikan, aroma di kaki kami menghilang bukan karena kami yang membersihkannya tetapi para senior yang membasuh dan menciumnya.
Situasi itu sungguh mengharukan. Tidak sedikit di antara kami yang meneteskan air mata setelah memandang wajah senior dengan ketulusannya membasuh kami. Selintas benak saya teringat pada apa yang diperbuat oleh Yesus kepada murid-murid-Nya dalam Yoh. 13:1-20. Seperti diketahui bahwa pembasuhan kaki murid-murid itu terjadi dalam satu rangkaian narasi penderitaan Yesus sebab dilaksanakan pada malam terakhir sebelum Yesus ditangkap.
Pembasuhan Kaki murid-murid pada malam terakhir bukan saja tindakan Yesus bersifat seremonial belaka tetapi sebuah praktik dengan makna yang sangat kaya. Keramahan adalah salah satu makna dalam pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus seperti yang dilakukan oleh tuan rumah kepada tamunya. Sudah menjadi tradisi yang melekat bagi masyarakat Yahudi pada khususnya bahwa pembasuhan kaki adalah penyambutan tuan rumah kepada tamu bahwa sang tamu berintegrasi dengant tuan rumah. Ketika para tamu tiba di sebuah rumah, adalah hal yang umum bagi tuan rumah untuk menyediakan air untuk mencuci tangan dan kaki tamu. Orang asing tidak selamanya dibiarkan menjadi orang asing dengan terintegrasi dalam kasih persaudaraan dengan tuan rumah.
Pembasuhan kaki murid-murid menunjukkan kasih Yesus yang mendalam (εἰς τέλος). Murid-murid bukan lagi orang asing sebab ada keterikatan-Nya dengan murid-murid. Para murid disambut ke dalam persekutuan yang akrab dengan-Nya. Yesus menggunakan pembasuhan kaki sebagai tindakan simbolik untuk memaknai keramahan dan persaudaraan-Nya dengan manusia.
Bagi saya, pembasuhan kaki di malam terakhir masa Ospek ibarat sebuah awal memasuki fase kehidupan baru. Kampus Proklamasi ini bukanlah sebuah persekutuan akademis yang mendepankan relasi saling pengasingan antara tamu dan tuan rumah. Kalangan senior menjadi tuan rumah sementara kami yang junior berstatus tamu. Kami yang masih junior terintegrasi dalam kasih yang mendalam serta satu persekutuan dengan senior dalam komunitas akademis di Kampus Proklamasi. Keramahan dan penyambutan menjadi ciri kehidupan baru di fase awal ini.
KOMUNITAS KESETARAAN MENGELILINGI MEJA KANTIN
Pada awal perkuliahan mulai dimulai, wajah senior-senior yang menyeramkan masih terbayang di wajah kami ketika masa Ospek. Interaksi di meja kantin masih terasa janggal. Kami takut satu meja dengan senior. Kami sebagai angkatan baru mengasingkan diri seolah membentuk persekutuan eksklusif. Semuanya didasari oleh rasa takut dan merasa terasing dengan para senior.
Suatu ketika kami ditegur oleh senior yang kebetulan sudah empat tahun di atas kami. Tegurannya sangat keras tetapi maknanya sangat dalam. Beliau mengatakan, “Jangan eksklusif karena kampus ini inklusif bahkan plural. Mari di sini, kita satu meja” Beberapa teman satu angkatan saya merasa kecut dengan teguran itu. Walau demikian, lambat laun teguran itu meninggalkan kesan mendalam.
Satu meja adalah kesan mendalam yang mengindikasikan tidak ada relasi ordinatif. Sekali lagi, tidak ada orang asing tetapi semua tuan rumah. Dan lagi, tidak ada hamba dan tuan tetapi semuanya diikat dalam persekutuan yang bersaudara dalam kasih mendalam. Dengan kata lain, kami diajak untuk mengembangkan komunitas yang setara.
Kesetaraan (equality) adalah gerakan yang meyakini bahwa semua manusia adalah sama walau di sisi lain, kesetaraan juga mengakui bahwa setiap manusia memiliki perbedaan. Tidak ada dua manusia yang benar-benar sama. Jika dikaitkan dengan pengalaman di Kampus Proklamasi maka setiap kami yang berada mengelilingi meja makan tidak sama, tetapi kesetaraan tetap dirawat dan dijaga. Di antara kami ada yang sedang di jenjang tahun pertama sementara di hadapan kami ada senior yang barangkali sudah di jenjang tahun kedua bahkan tahun kelima. Sudah dapat dipastikan bahwa kami tidak setara dalam penguasaan ilmu Teologi. Persoannya, apakah ketidaksamaan itu dibawa ke dalam relasi hamba dan tuan sebagaimana peradaban sebelum abad sembilan belas?
Saya merasakan bahwa relasi hamba dan tuan diruntuhkan seketika di sekeliling meja makan. Boleh saja kami berbeda tetapi tidak ada relasi yang saling menguasai, mengordinasi, dan melakukan kooptasi intelektual. Semua orang baik senior maupun junior diberikan kesempatan untuk mengalami pertumbuhan intelektual dan akademis. Walau ada perbedaan tetapi di meja makan kami sebagai junior tetap dianggap sebagai manusia yang dihargai dan dihormati. Tidak ada kepatuhan mutlak seperti hubungan rakyat dengan raja pada pemerintahan feodalisme sebagaimana dipraktikkan oleh Monarki Absolut Perancis ketika dikuasai oleh Raja Louis XIV. Semua orang memiliki posisi yang sama meskipun di antara kami memiliki perbedaan status berbeda, ada senior dan junior. Meja makan mengajarkan keseteraan bahwa tidak seorang pun dimaksudkan untuk menduduki posisi yang lebih tinggi karena posisinya dalam struktur dan hierarki sosial. Sebuah semangat penghormatan pada martabat adalah kesetaraan yang dapat kami maknai di meja kantin.
Penghormatan itu semakin menggelembung ketika terjadi diskusi terhadap sebuah topik teologi. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mencurahkan pikirannya ke dalam gelanggang diskusi. Walau ada pendapat salah tidak ada diksi yang menuduh seseorang itu dungu, bodoh atau istilah lain yang mengindikasikan perundungan. Semua pendapat dianggap berharga dan dihormati. Itulah kesetaraan di meja makan yang kami alami saat pertama sekali memasuki galaksi kehidupan berteologi di Kampus Proklamasi.
PELAJARAN MENGGEREJA
Pengalaman menarik ketika awal memasuki kehidupan akademis di Kampus Proklamasi mengindikasikan sebuah semangat menggereja. Kala itu saya mendaku bahwa ada dua nilai strategis yang kelak dapat dihidupkan dalam pengalaman bergereja yaitu keramahan dan keseteraan. Dua istilah tersebut ibarat mutiara berharga yang harus berdiam dalam gereja sepanjang segala waktu dan tempat.
Rasanya, jika gereja dibicarakan di sini maka saya tidak boleh luput dari pemahaman gereja menurut Lutheran. Pertimbangan utama saya adalah warisan teologi denominasi gereja yang telah merahimi saya, sekaligus menumbuhkan plasenta spiritualitas terhadap diri saya yaitu GKPI. GKPI adalah salah satu di antara banyak denominasi gereja yang mendasarkan konfesinya pada teologi reformasi Lutheran.
Katekismus Besar yang ditulis oleh Martin Luther memaknai gereja sebagai persekutuan (communio). Persekutuan merujuk pada kata dalam bahasa Jerman, gemeinschaft, yang berarti rasa saling memahami dan mempercayai antara satu dengan yang lain meskipun tidak saling mengenal. Gemenischaft juga mengindikasikan, setiap orang akan saling memberi dan berpartisipasi serta menjadi seseorang terhadap yang lain. Inilah yang digunakan oleh Luther untuk memaknai gereja sehingga penekanannya terhadap gereja adalah persekutuan.
Nah, pemahaman gereja yang dibangun Luther, sekaligus menjadi ciri eklesiologi bagi Lutheran dapat dibentuk melalui keramahan dan kesetaraan. Gereja sebagai gemeinschaft dipastikan kehilangan keberadaan jika tidak dibentuk oleh keramahan dan kesetaraan. Ibarat seseorang pengguna kaca mata. Dia dipastikan dapat membaca atau melihat sesuatu dengan jelas jika menggunakan kaca mata yang tepat. Demikian halnya dengan gereja, kaca mata yang tepat untuk melihat gereja adalah persekutuan dan kesetaraan. Dengan kata lain, apapun aktivitas dalam gereja terutama penatalayanannya mesti dilihat dari kaca mata persekutuan. Jika tidak, maka gereja akan terjebak pada feodalisme rohani di mana pemimpinnya berada pada puncak tertinggi organisasi yang memosisikan diri sebagai penguasa terhadap segala sesuatu, penentu segala sesuatu, dan sebagainya.