Khotbah

Akar yang Saling Berpelukan: Menghidupi Kesatuan Perichoretic

Oleh: Pdt. Irvan Hutasoit 11 Januari 2026 Kategori: Ibadah Minggu

Nas

1Korintus 1:10

Bapak, Ibu, dan saudara-saudara yang dikasihi di dalam Tuhan Yesus Kristus, seringkali kita terjebak dalam pemahaman yang sempit mengenai arti sebuah kesatuan. Di dunia yang penuh dengan standar dan aturan ini, kita kerap menganggap bahwa bersatu berarti harus menjadi seragam. Kita merasa bahwa kesatuan hanya bisa dicapai jika semua orang memiliki pemikiran yang identik, latar belakang yang sama, atau pilihan-pilihan yang tidak berbeda. Namun, jika kita melihat realitas hidup sehari-hari, keseragaman seperti itu seringkali hanyalah sebuah kepura-puraan yang menutupi luka perpecahan yang lebih dalam di bawah permukaan. Kita sering "diam demi rukun", padahal hati kita saling menjauh.

Kondisi inilah yang dihadapi oleh jemaat di Korintus ribuan tahun yang lalu. Mereka adalah komunitas yang sangat dinamis, kaya akan karunia rohani, namun sekaligus rapuh karena terjebak dalam faksionalisme yang akut. Di sana, identitas kelompok bukan lagi sekadar pembeda, melainkan telah menjadi dinding pemisah yang tebal dan eksklusif. Ada yang dengan bangga merasa sebagai golongan Paulus yang mungkin merasa paling mendasar, ada yang mengunggulkan Apolos karena kefasihan bicaranya, dan yang lain memuja Kefas karena otoritas tradisinya. Masalah utamanya bukan pada sosok pemimpinnya, melainkan pada bagaimana jemaat menjadikan identitas-identitas tersebut sebagai senjata untuk saling meniadakan. Mereka terjebak dalam "ego identitas yang tertutup", sebuah kondisi di mana setiap kelompok merasa memiliki kebenaran secara utuh dan memandang yang lain sebagai ancaman atau pihak yang kurang rohani. Menanggapi situasi yang memecah belah ini, Rasul Paulus hadir dalam 1 Korintus 1:10 dengan sebuah nasihat yang melampaui aturan moral sederhana; ia meminta jemaat untuk seia sekata, erat bersatu, dan sehati sepikir. Paulus tidak sedang menyuruh mereka menjadi robot yang tidak punya pendapat atau menghapus keberagaman karunia mereka, melainkan ia sedang mengundang mereka ke dalam sebuah cara hidup yang jauh lebih luhur, yaitu sebuah kesatuan yang lahir dari kerendahhatian untuk saling membutuhkan.

Untuk memahami nasihat Paulus ini secara lebih mendalam, kita perlu meminjam sebuah kacamata teologis yang disebut perichoresis. Istilah ini secara tradisional digunakan untuk menjelaskan hakikat hubungan di dalam Allah Tritunggal. Dalam tradisi iman Kristen, Allah Tritunggal bukanlah sosok tunggal yang kesepian, melainkan Allah yang Esa dalam persekutuan tiga pribadi yang saling menghadiri: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Perichoresis menggambarkan sebuah gerak dinamis yang saling mendiami, di mana setiap pribadi memberikan diri-Nya sepenuhnya untuk menjadi tempat kediaman bagi pribadi yang lain tanpa kehilangan keunikan diri-Nya sendiri. Di dalam Allah, tidak ada dominasi atau persaingan, yang ada hanyalah kasih yang saling meresapi secara sempurna. Dalam bahasa teologi konstruktif, perichoresis adalah tentang keramahtamahan yang radikal (radical hospitality). Ini berarti kesatuan yang sejati dalam jemaat seharusnya mencerminkan tarian ilahi tersebut; sebuah kondisi di mana saya berani membuka pintu hati saya seluas-luasnya agar Anda yang berbeda—baik berbeda latar belakang, cara pandang, maupun pilihan—bisa "tinggal" dan merasa aman di dalamnya. Sebaliknya, saya pun dengan rendah hati bersedia masuk dan mencoba mendiami perspektif Anda, sehingga yang terjadi bukanlah penyeragaman paksa, melainkan persekutuan yang saling memperkaya dalam kasih Kristus.

Mari kita bayangkan kerumitan kasih ini melalui sebuah gambaran indah dari alam ciptaan Tuhan, yaitu ekosistem sebuah hutan yang rimbun. Jika kita berjalan di tengah hutan, mata kita akan melihat pohon-pohon besar yang tampak berdiri sendiri-sendiri secara fisik. Ada pohon jati yang kokoh, mahoni yang menjulang, dan rimbunnya semak di bawahnya. Secara kasat mata, mereka terpisah oleh jarak. Namun, para ilmuwan menemukan rahasia yang luar biasa di bawah tanah. Akar-akar pohon itu ternyata saling berpelukan dan berjalinan melalui sebuah jaringan jamur yang sangat luas. Melalui jalinan akar yang "saling meresapi" ini, sebuah pohon yang sehat akan mengirimkan nutrisi kepada bibit pohon yang kekurangan sinar matahari di sudut yang gelap. Mereka tidak hanya hidup berdampingan, mereka saling berbagi kehidupan di bawah permukaan tanah yang tidak terlihat oleh mata manusia.

Inilah esensi dari nasihat Paulus tentang "erat bersatu". Paulus sedang memanggil jemaat Korintus—dan juga kita hari ini—untuk memiliki "akar yang saling berpelukan". Kesatuan kita sebagai gereja tidak terletak pada kesamaan hobi, status sosial, atau pilihan politik. Kesatuan kita terletak pada kesediaan kita untuk saling terhubung di dalam "tanah" yang sama, yaitu Kristus Yesus. Ketika kita memiliki semangat perichoretic, kita tidak lagi memandang orang yang berbeda pendapat sebagai musuh yang harus dikalahkan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem iman kita yang perlu kita rangkul. "Seia sekata" bukan berarti harus memiliki satu kepala, melainkan memiliki satu komitmen untuk tidak pernah melepaskan genggaman tangan meskipun kita sedang tidak sepaham.

Oleh karena itu, mari kita menghidupi persekutuan kita dengan cara yang baru. Marilah kita menjadi jemaat yang berani membuka ruang bagi "yang lain". Gereja seharusnya menjadi tempat di mana perbedaan tidak dipadamkan, tetapi dirayakan dalam tarian kasih yang saling meresapi. Ingatlah bahwa kita tidak akan pernah bisa bertumbuh dewasa dalam iman jika kita terus membangun pagar-pagar faksi dan golongan. Kita hanya bisa bertumbuh jika akar-akar iman kita berani menjangkau dan berpelukan dengan akar sesama kita, saling menguatkan saat badai datang, dan saling berbagi sukacita saat berkat melimpah. Biarlah melalui persekutuan kita, dunia melihat sebuah komunitas yang tidak seragam namun sangat rukun, karena kita hidup dalam irama tarian kasih Allah yang merangkul semua ciptaan. Amin.