Hari ini kita hadir pada sebuah momen yang penuh sukacita ketika dua pribadi datang untuk memulai kehidupan baru sebagai suami dan istri. Pernikahan selalu membawa harapan, tetapi juga membawa kesadaran bahwa perjalanan bersama tidak selalu mulus. Di balik senyum dan sukacita hari ini, kita tahu bahwa hidup bersama menuntut lebih dari sekadar cinta yang romantis; ia menuntut komitmen untuk membangun relasi yang sehat, mendalam, dan memulihkan. Karena itu, firman Tuhan dalam Roma 12:10 menjadi sangat relevan: "Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat."
Paulus menyampaikan ayat ini kepada jemaat di Roma, tetapi maknanya menjangkau hingga ke inti relasi pernikahan. Ketika ia berkata, "saling mengasihi sebagai saudara," ia menggunakan kata Yunani philostorgos—sebuah istilah yang menggambarkan cinta keluarga yang hangat dan bertahan dalam segala musim. Kasih jenis ini bukan sekadar perasaan, melainkan komitmen untuk tetap melekat sekalipun ada ketegangan atau perbedaan. Inilah kasih yang tidak menyerah hanya karena keadaan tidak ideal. Dengan kata lain, Paulus sedang menegaskan bahwa relasi Kristen yang sejati—baik dalam jemaat maupun dalam pernikahan—ditopang oleh komitmen untuk saling menanggung dan menerima, bukan oleh kesempurnaan masing-masing pribadi.
Ketika dua orang memilih untuk menikah, mereka sebenarnya sedang membentuk keluarga baru, dan keluarga selalu dihuni oleh dua realitas sekaligus: kedekatan dan ketidaksempurnaan. Di sinilah philostorgos menemukan maknanya. Kasih keluarga tidak bersembunyi dari kelemahan, tetapi merangkulnya. Ia membuka ruang untuk saling belajar, saling bertumbuh, dan saling memahami. Kasih seperti ini tidak menghilang ketika emosi berubah, sebab ia tidak bersandar pada perasaan belaka, melainkan pada keputusan untuk tetap tinggal dan tetap setia. Dalam teologi konstruktif, inilah relasi yang membentuk identitas: kita menjadi diri kita yang paling utuh melalui proses saling membangun dan saling menopang.
Namun, kasih saja tidak cukup bila tidak disertai penghormatan. Itulah mengapa Paulus menambahkan, "saling mendahului dalam memberi hormat." Di sini ia menggunakan kata proēgeomai, yang berarti mengambil inisiatif untuk mengangkat martabat orang lain. Dalam budaya Roma kuno, kehormatan adalah sesuatu yang diperebutkan; namun Paulus justru meminta orang percaya untuk berebut dalam memberi, bukan menerima. Ketika prinsip ini masuk ke dalam pernikahan, ia menjadi fondasi yang meneguhkan: bahwa kehormatan bukan sesuatu yang ditunggu, tetapi diberikan lebih dahulu.
Hormat dalam pernikahan berarti melihat pasangan bukan sebagai pesaing, tetapi sebagai anugerah. Itu berarti mengakui keunikan karakter mereka, menghargai langkah perjalanan mereka, dan memberi ruang bagi suara dan pengalaman mereka. Hormat juga berarti bersedia mendengar sebelum menanggapi, memahami sebelum menghakimi, dan memberi kepercayaan sebelum menuntut pembenaran. Dalam dunia yang sering dipenuhi ego, pernikahan menjadi tempat di mana dua pribadi saling melatih hati untuk mendahului menghormati, bukan saling menuntut.
Ketika kasih keluarga (philostorgos) bertemu dengan penghormatan yang mendahului (proēgeomai), lahirlah sebuah dinamika relasi yang tidak hanya bertahan, tetapi bertumbuh. Pernikahan menjadi lebih dari sekadar ikatan legal—ia menjadi ruang di mana dua pribadi membangun sebuah "komunitas kecil Kerajaan Allah." Di komunitas kecil inilah kesabaran dipelajari, kerendahan hati dibentuk, dan kesetiaan diuji. Dalam komunitas kecil ini pula Allah bekerja—memurnikan karakter, menguatkan cinta, dan memperdalam iman.
Dengan demikian, Roma 12:10 bukan hanya ayat bagi jemaat di abad pertama; ia adalah pedoman bagi setiap pasangan yang ingin membangun rumah tangga yang kokoh. Ketika kasih yang hangat menjadi dasar, dan penghormatan yang mendahului menjadi kebiasaan, pernikahan tidak hanya menjadi ruang kebahagiaan, tetapi juga tempat pertumbuhan yang memulihkan. Di sana, dua pribadi yang terbatas dapat saling melengkapi, saling menguatkan, dan saling mengangkat, sehingga kehidupan mereka bersama menjadi cermin kecil dari kasih Kristus yang memulihkan dunia.
Kiranya pasangan yang berbahagia hari ini membawa Roma 12:10 sebagai kompas perjalanan mereka. Kiranya kasih kalian bukan sekadar rasa, tetapi keputusan yang berakar pada komitmen keluarga. Dan kiranya kalian selalu berlomba dalam memberi hormat, sehingga setiap hari menjadi kesempatan baru untuk saling menguatkan dan membangun. Semoga rumah tangga ini menjadi tempat di mana kasih bertumbuh dewasa, hormat menjadi kebiasaan, dan kehadiran Allah dirasakan dalam setiap langkah bersama.
Disampaikan dalam Ibadah Pernikahan di GKPI Air Bersih, tanggal 5 Desember 2025