Khotbah

Dalam Dia Kita Menjadi Kaya dalam Segala Hal

Oleh: Pdt. Irvan Hutasoit 17 Januari 2026 Kategori: Ibadah Minggu

Nas

1 Korintus 1:4-9

Kata kaya adalah salah satu istilah yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namun justru paling jarang direnungkan secara mendalam. Kekayaan hampir selalu dipahami sebagai kepemilikan, keberhasilan, dan kemampuan mengendalikan masa depan. Seseorang disebut kaya ketika ia memiliki cukup banyak untuk merasa aman. Cara pandang ini perlahan meresap ke dalam kehidupan iman dan gereja. Kita mulai menilai keberhasilan rohani dari ukuran-ukuran yang kasat mata: jumlah, aktivitas, pengaruh, dan pencapaian. Namun di balik semua ukuran itu, tersimpan sebuah kegelisahan yang layak disimak: apakah pemahaman kita tentang kekayaan sungguh sejalan dengan cara Allah memandang hidup umat-Nya?

Kegelisahan inilah yang secara implisit hadir ketika Rasul Paulus menulis kepada jemaat Korintus. Jemaat ini bukan komunitas yang ideal. Mereka hidup dalam perpecahan, saling membandingkan diri, dan terjebak dalam kebanggaan rohani. Namun yang mengejutkan, Paulus tidak memulai dengan kritik atau koreksi. Ia justru membuka suratnya dengan ucapan syukur, sebab ia melihat bahwa kehidupan jemaat tidak pertama-tama ditentukan oleh kegagalan mereka, melainkan oleh kasih karunia Allah yang telah dianugerahkan dalam Kristus Yesus. “Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepadamu dalam Kristus Yesus.” (1 Korintus 1:4)

Dengan kalimat ini, Paulus menggeser pusat perhatian dari prestasi manusia kepada inisiatif Allah. Kekayaan iman tidak berawal dari usaha manusia untuk mencapai Allah, melainkan dari Allah yang lebih dahulu menjangkau manusia. Di titik ini, pemikiran Agustinus (354–430 M) bergema kuat. Dalam Confessiones, ia menyadari bahwa bahkan pencariannya akan Allah sudah digerakkan oleh Allah sendiri. Kasih karunia, bagi Agustinus, selalu bersifat mendahului: Allah mengasihi sebelum manusia mampu membalas. Karena itu, gereja tidak hidup dari rasa layak, melainkan dari rasa syukur. Kekayaan iman adalah kesadaran bahwa seluruh hidup ditopang oleh anugerah yang tidak kita hasilkan sendiri.

Namun penting untuk disadari bahwa anugerah Allah bukanlah gagasan abstrak. Anugerah itu memiliki wajah, tubuh, dan sejarah. Ia hadir melalui inkarnasi Allah dalam pribadi Sang Anak, Yesus Kristus. Dalam Kristus, Allah tidak menjaga jarak, tetapi melintasi jurang antara ilahi dan manusiawi. Inkarnasi bukan pagar yang memisahkan Allah dari dunia, melainkan jembatan yang menghubungkan Allah dengan manusia. Maka, menjadi kaya dalam anugerah bukan sekadar menerima pemberian rohani, tetapi berpartisipasi dalam gerak inkarnasi Allah sendiri: sebuah keberanian untuk mendekat, menjumpai, dan mengikatkan diri pada yang lain.

Dari titik inilah Paulus melangkah lebih jauh. Ia mengatakan bahwa di dalam Kristus jemaat telah diperkaya dalam segala hal, khususnya dalam perkataan dan pengetahuan. Pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk memuji kecakapan intelektual atau kefasihan retorika, melainkan untuk menegaskan bahwa relasi dengan Kristus—Allah yang berinkarnasi—mengubah cara manusia menamai dunia dan memahami hidup. “Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan.” (1 Korintus 1:5)

Dalam perspektif teologi konstruktif, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi ruang tempat makna dibentuk dan relasi dirawat. Cara kita berbicara menciptakan dunia yang kita hidupi bersama. Agustinus menegaskan bahwa pengetahuan sejati tentang Allah tidak pernah netral; ia selalu membentuk kasih. Ketika pengetahuan terpisah dari kasih, ia berubah menjadi kesombongan rohani. Karena itu, kekayaan dalam perkataan dan pengetahuan adalah kemampuan untuk berbicara dengan kepekaan, mendengarkan dengan kerendahan hati, dan memahami realitas hidup dalam terang kasih Allah. Di sinilah iman menyentuh praksis keseharian.

Lebih lanjut, Paulus menegaskan bahwa kekayaan iman ini diteguhkan dalam kesaksian tentang Kristus di tengah jemaat. Kekayaan tidak berhenti pada pengalaman batiniah atau pengakuan lisan, tetapi menemukan wujudnya dalam kehidupan bersama. Kesaksian bukan pertama-tama soal apa yang dikatakan gereja, melainkan tentang kehadiran Kristus yang dapat dikenali dalam relasi umat. “Sesuai dengan kesaksian tentang Kristus yang telah diteguhkan di antara kamu.” (1 Korintus 1:6)

Di sinilah pemikiran Yohanes Krisostomus (347–407 M) menjadi sangat relevan. Sebagai pengkhotbah dan gembala, ia berulang kali menegaskan bahwa Injil menjadi hidup ketika kasih diwujudkan secara konkret. Menurutnya, seorang Kristen yang tidak peduli kepada sesamanya telah kehilangan inti kesaksiannya. Gereja disebut kaya bukan karena banyak berbicara tentang Kristus, tetapi karena Kristus dikenali dalam cara jemaat saling memperhatikan, menanggung beban, dan bertahan dalam kasih di tengah perbedaan dan luka.

Refleksi ini membawa kita pada satu konsekuensi penting: pemahaman tentang kekayaan iman tidak pernah netral. Cara kita memahami kaya di hadapan Allah akan selalu memengaruhi cara kita memandang sesama. Ketika kekayaan dimaknai sebagai prestasi, superioritas, atau kepantasan, gereja—sadar atau tidak—akan membangun garis-garis pemisah: antara yang dianggap rohani dan yang biasa, antara yang layak didengar dan yang hanya menjadi objek pelayanan, antara kita dan mereka.

Dalam konteks inilah pernyataan Paulus bersifat subversif. Ia menyebut kaya sebuah jemaat yang retak, bukan karena mereka unggul, melainkan karena mereka semua hidup dari kasih karunia yang sama. Kasih karunia tidak mengenal hierarki moral atau status sosial. Di hadapannya, tidak ada ruang untuk membanggakan diri atau merendahkan yang lain. Semua berdiri di tanah yang sama: tanah anugerah. Seperti diingatkan Agustinus, manusia tidak memiliki apa pun yang tidak ia terima. Maka setiap pemisahan yang melahirkan keangkuhan rohani sejatinya adalah penyangkalan terhadap kasih karunia itu sendiri.

Karena kekayaan ini membentuk perkataan dan pengetahuan, bahasa gereja menjadi sangat menentukan. Bahasa dapat menyembuhkan, tetapi juga dapat melukai. Ketika gereja memakai bahasa yang melabeli, menghakimi, atau mengecilkan kelompok tertentu—berdasarkan kelas, latar belakang, pendidikan, atau identitas—pada saat itu gereja sedang hidup dari kemiskinan relasional, bukan dari kekayaan Kristus yang berinkarnasi.

Pemikiran filsuf Emmanuel Levinas (1906–1995) menajamkan kesadaran ini. Ia menegaskan bahwa etika lahir ketika manusia berjumpa dengan wajah sesama, wajah yang tidak dapat direduksi menjadi kategori, angka, atau stereotip. Wajah sesama selalu memanggil tanggung jawab, bahkan sebelum kita sempat menilai kelayakannya. Wajah yang lain tidak hadir sebagai ancaman, melainkan sebagai panggilan etis. Dalam terang ini, hidup berinkarnasi berarti berani menjadi jembatan: melihat wajah, bukan label; mendengar cerita, bukan sekadar posisi; dan membuka ruang, bukan membangun pagar.

Akhirnya, kita kembali pada pertanyaan awal: apa arti kaya di hadapan Allah? Renungan ini menuntun kita pada satu jawaban yang jujur dan menantang. Kita menjadi kaya bukan ketika kita berhasil membedakan diri dari yang lain, melainkan ketika kita berani hidup tanpa tembok pemisah. Kita menjadi kaya karena kasih karunia Allah—yang hadir dalam inkarnasi Kristus—mengikat kita semua dalam relasi yang setara; karena bahasa iman kita dipanggil untuk membangun, bukan melukai; dan karena kehidupan bersama kita menjadi ruang di mana setiap orang dapat hadir sebagai sesama, bukan sebagai ancaman.

Dalam Dia, kita menjadi kaya—bukan untuk memisahkan diri, tetapi untuk menjadi jembatan. Dan justru di sanalah, di tengah perjumpaan dengan yang lain, gereja dan masyarakat terus dibentuk menjadi lebih manusiawi, adil, dan penuh harapan.