Khotbah

Inkarnasi dan Pra-Eksistensi Kristus: Pengharapan dan Ruang Partisipasi Kristen

Oleh: Pdt. Dr. Irvan Hutasoit 04 Januari 2026 Kategori: Ibadah Minggu

Nas

Yohanes 1:10-17

Hidup manusia masa kini ditandai oleh sebuah paradoks: semakin banyak perjumpaan, tetapi semakin sedikit kehadiran yang sungguh dirasakan. Kita hadir secara fisik, tetapi sering absen secara batin. Kita berbicara, bekerja, bahkan beribadah, namun merasa tidak sungguh dikenal dan tidak sungguh dihadiri. Fenomena ini melahirkan sebuah pertanyaan reflektif yang mendalam: adakah kehadiran yang benar-benar hadir—yang tidak hanya lewat, tetapi tinggal dan mengenal manusia sepenuhnya?

Filsafat membantu kita membaca kegelisahan ini. Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, makhluk yang “ada-di-dunia”, tetapi sering terjebak dalam hidup yang tidak otentik—hidup yang larut dalam rutinitas tanpa makna. Manusia ada, tetapi tidak sungguh mengada. Kehadiran kehilangan kedalaman. Dalam bahasa iman, manusia hidup, tetapi merasa sendirian.

Di tengah dunia seperti inilah Injil Yohanes bersuara dengan tajam: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya” (Yohanes 1:10). Yohanes tidak sedang berbicara tentang kurangnya pengetahuan, melainkan kegagalan pengenalan. Dunia gagal mengenali Dia yang justru menjadi dasar keberadaan dunia itu sendiri. Inilah ironi eksistensial terdalam: Sang Sumber hidup hadir, tetapi tidak diakui.

Ayat ini membawa kita pada pengakuan iman tentang pre-eksistensi Kristus. Yohanes telah menegaskannya lebih awal: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1). Yesus tidak dimulai di Betlehem. Ia telah ada sebelum sejarah, sebelum dunia, sebelum manusia mampu mengenal atau menolak-Nya. Secara teologis, ini berarti kasih Allah bukan reaksi terhadap dosa manusia, melainkan keberadaan Allah yang sudah ada sejak kekekalan. Kasih Kristus mendahului hidup, luka, dan kegagalan manusia.
Namun Yohanes tidak berhenti pada pengakuan metafisis. Ia melangkah lebih jauh ke inti iman Kristen: “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14). Kata “diam” di sini sangat penting. Dalam bahasa Yunani digunakan kata ἐσκήνωσεν (eskēnōsen), dari kata dasar σκηνόω (skēnoō), yang secara harfiah berarti “berkemah” atau “mendirikan tenda.”

Makna ini membawa kita kembali ke Perjanjian Lama, ketika Allah hadir di tengah Israel dalam Kemah Suci (Keluar dari Mesir). Yohanes ingin mengatakan: Allah yang dahulu hadir di dalam kemah, kini berkemah dalam tubuh manusia. Allah tidak sekadar singgah, tidak sekadar menampakkan diri sesaat, tetapi tinggal, menetap, dan berbagi ruang hidup dengan manusia. Inkarnasi berarti Allah memilih kerentanan, kedekatan, dan kebersamaan sebagai cara-Nya hadir.

Di sini terjadi dialog yang kaya dengan filsafat relasi. Emmanuel Levinas menegaskan bahwa makna terdalam kemanusiaan lahir dalam perjumpaan dengan “wajah yang lain”—wajah yang memanggil tanggung jawab dan keterbukaan. Injil Yohanes melangkah lebih radikal: Allah sendiri menghadirkan wajah-Nya kepada manusia. Dalam Yesus Kristus, Allah tidak hanya menuntut manusia bertanggung jawab, tetapi terlebih dahulu memberikan diri-Nya.

Dari kehadiran yang berkemah inilah mengalir kepenuhan kasih karunia: “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yohanes 1:16). Kasih Allah tidak pernah habis. Ia tidak bekerja dengan logika cadangan yang terbatas, melainkan dengan kepenuhan yang terus mengalir. Ketika manusia jatuh, kasih itu tetap menopang. Ketika manusia memulai lagi, kasih itu sudah lebih dahulu menanti.

Kasih karunia ini mengubah identitas manusia: “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah” (Yohanes 1:12). Menjadi anak berarti hidup dalam relasi, bukan dalam ketakutan. Anak tidak hidup untuk membuktikan diri, melainkan dari kasih yang sudah diberikan. Inilah dasar partisipasi iman: hidup dari apa yang Kristus telah dan sedang kerjakan.

Kini, pada awal Tahun 2026, teks ini berbicara secara pastoral dengan kekuatan yang besar. Di ambang tahun yang baru—dengan harapan, ketidakpastian, dan mungkin kecemasan—Injil Yohanes menegaskan bahwa sebelum kita melangkah ke masa depan, Kristus sudah lebih dahulu ada di sana. Pre-eksistensi Kristus menjadi dasar pengharapan: masa depan tidak kosong, karena Kristus telah mendahului sejarah.

Lebih dari itu, inkarnasi memberi jaminan bahwa apa pun yang akan kita hadapi di tahun ini—kelelahan, pergumulan, atau sukacita—bukanlah ruang yang asing bagi Allah. Firman itu telah berkemah di tengah kehidupan manusia yang seperti itu. Ia tinggal, menyertai, dan setia.

Partisipasi orang percaya lahir dari sini. Kita tidak ikut serta dalam pre-eksistensi Kristus sebagai makhluk ilahi, tetapi kita diikutsertakan dalam hidup-Nya. Kita hidup dari kasih yang telah ada sebelum dunia, dan kita menghadirkan kasih itu secara inkarnatif di tengah dunia. Ketika orang percaya memilih hadir, setia, dan mengasihi, di situlah pre-eksistensi Kristus bergema dalam sejarah, dan inkarnasi Kristus diteruskan dalam kehidupan gereja.

Maka jawaban atas pertanyaan awal menjadi jelas. Ada kehadiran yang sungguh hadir. Ada kehadiran yang tinggal dan mengenal. Kristus—Firman yang telah ada sejak awal, yang berkemah di tengah manusia, dan yang terus mencurahkan kasih karunia—itulah jawaban Injil. Dan pada awal tahun yang baru ini, kita dipanggil untuk hidup dari kepenuhan-Nya, serta ikut berpartisipasi ke dalam kehadiran-Nya bagi dunia. Dalam kehadiran kita, nampak wajah yang mengasihi dunia, sama seperti Kristus yang mengasihi dunia (bnd. Yoh. 3:16)