Khotbah

Krisis Ekologi: Langkah untuk Berjalan dalam Terang Allah

Oleh: Pdt. Dr. Irvan Hutasoit 28 November 2025 Kategori: Ibadah Minggu

Nas

Yesaya 2:1-5

Bencana yang beruntun dalam satu minggu ini melahirkan pertanyaan tentang arah hidup yang sedang kita jalani. Banjir bandang dan tanah longsor di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Humbang Hasundutan serta genangan besar di Medan dan sekitarnya memperlihatkan bagaimana alam seolah kehilangan keseimbangannya. Hujan turun di luar pola yang seharusnya, tanah kehilangan kemampuannya menahan air, dan sungai seakan tidak lagi mengikuti ritme yang pernah akrab bagi masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, dunia terasa rapuh; apa yang dulu dianggap wajar kini berubah menjadi ancaman. Alam yang dulu disebut sebagai rumah bersama, kini tampak seperti ruang yang menggigil dan terluka.

Menurut para ahli ekologi seperti Johan Rockström, kerusakan ini bukan sekadar rangkaian peristiwa alam, melainkan gejala dari krisis planet yang muncul ketika manusia melampaui batas-batas ekologis bumi. Perubahan iklim, penggundulan hutan, dan pola konsumsi manusia yang berlebihan, sehingga bumi tidak dapat menanggung beban akibat ulah manusia. Sementara itu, Elizabeth Kolbert menggambarkan zaman ini sebagai masa ketika begitu banyak bentuk kehidupan berada di ambang kepunahan. Dengan kata lain, alam tidak sedang marah; alam sedang merespons luka yang terus kita timpakan, luka yang akhirnya kembali kepada kita dalam bentuk bencana dan ketidakpastian.

Di tengah kegelisahan ini, kita memasuki masa Adven yang selalu dimulai dengan nyala lilin pengharapan. Terang kecil itu tampak kontras dengan gelapnya realitas yang melingkupi kita. Justru di sinilah kekuatan Adven muncul: Adven mengingatkan, harapan tidak pernah menunggu keadaan membaik; harapan justru hadir ketika keadaan paling gelap. Adven bukan sekadar liturgi tahunan, tetapi sebuah cara melihat dunia. Ia mengajak kita membuka diri terhadap kedatangan terang Allah yang tidak hanya menyalakan ruang batin, tetapi juga mengubah cara kita bersikap terhadap dunia yang sedang terluka.

Pada minggu Adven 1 ini, kita memperoleh terang spiritual dari Yesaya 2:1-5. Visi yang dibangun Yesaya lahir dalam situasi yang tidak jauh berbeda. Bangsa Yehuda berada dalam ketidakpastian politik, tekanan sosial, dan degradasi moral. Namun yang menarik, Yesaya tidak memulai dengan keluhan; ia justru mengarahkan pandangan ke suatu gambaran masa depan ketika “gunung rumah TUHAN berdiri tegak” (ay. 2). Kata Ibrani nākôn yang diterjemahkan “berdiri tegak” mengandung makna “ditegakkan dengan kokoh”. Gambaran ini bukan sekadar lokasi geografis, tetapi simbol orientasi baru. Ketika dunia goyah, ada satu pusat yang tetap kokoh, yaitu kehadiran Allah yang menjadi pusat hidup setiap umat-Nya.

Dari pusat itu, Yesaya melihat bangsa-bangsa bergerak dan “berduyun-duyun ke sana” (ay. 2). Ini bukan arus ziarah ritual, tetapi gerak manusia yang ingin belajar hidup dengan cara yang baru. Gambaran ini menegaskan bahwa terang Allah selalu bersifat memanggil, mendorong manusia keluar dari pola hidup yang merusak menuju pola yang lebih selaras dengan kehidupan.

Ayat berikut menegaskan inti panggilan itu: “Ia akan mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya” (ay. 3). Kata yôrēnû yang berarti “mengajar” terkait erat dengan konsep torah, yaitu petunjuk hidup yang membentuk arah dan etika. Dalam konteks krisis ekologis hari ini, torah ini dapat dipahami sebagai undangan untuk menata ulang cara manusia memperlakukan bumi, dari pola konsumsi yang rakus menuju pola hidup yang memulihkan; dari penguasaan atas ciptaan menuju persekutuan dengan ciptaan.

Gambaran yang paling mencolok muncul pada ayat 4, ketika pedang ditempa menjadi mata bajak. Kata kittētû atau “menempa” menunjukkan perubahan struktur yang mendasar. Ini bukan sekadar memperbaiki pinggiran masalah, tetapi mengubah akar persoalan. Bila diterjemahkan ke dalam kehidupan sekarang, gambaran ini mengajak kita berani melakukan transformasi yang radikal: mengubah cara hidup yang menimbulkan kerusakan ekologis menjadi cara hidup yang memberi ruang bagi bumi untuk pulih.

Seruan Yesaya ditutup dengan undangan sederhana namun mendalam: “Mari kita berjalan dalam terang TUHAN!” (ay. 5). Kata “berjalan” di sini memiliki nuansa komunal. Ini bukan perjalanan individu, melainkan langkah bersama sebagai umat yang ingin hidup selaras dengan terang Allah. Terang itu bukan hanya untuk direnungi, tetapi untuk dijalani.

Dalam dunia yang sedang terluka secara ekologis, berjalan dalam terang Tuhan berarti memaknai bencana bukan sebagai akhir, melainkan sebagai panggilan untuk berubah. Iman Kristen tidak memandang krisis ekologis sebagai sesuatu yang berada di luar wilayah spiritual, melainkan sebagai bagian dari komitmen iman untuk menjaga apa yang Tuhan percayakan. Berjalan dalam terang Tuhan berarti mengambil bagian dalam pemulihan bumi; berarti hadir bagi sesama yang menderita; berarti mengembangkan pola hidup yang lebih rendah hati di hadapan ciptaan; dan berarti membiarkan terang Tuhan mengubah cara kita memperlakukan dunia ini.

Ketika seseorang berjalan dalam terang itu, ia tidak hanya menunggu kedatangan Kristus sebagai peristiwa rohani, tetapi juga membiarkan terang Kristus membentuk tindakan nyata di bumi yang sedang merintih. Dengan demikian, di tengah bencana dan krisis ekologis yang merundung, Adven menjadi undangan untuk tidak menyerah kepada kegelapan, melainkan terus melangkah dalam terang yang memulihkan, menegakkan harapan, dan membawa hidup bagi dunia.

Adven mengajak kita untuk tidak menyerah kepada kegelapan krisis ekologis, tetapi berjalan dalam terang Tuhan yang memulihkan. Terang itu memanggil Gereja bukan hanya untuk berdoa, melainkan mengambil bagian aktif dalam merawat bumi. Pemeliharaan ekologis menjadi wujud nyata dari iman yang hidup—ketika manusia mengurangi gaya hidup boros, menghormati batas-batas alam, dan melakukan tindakan kecil yang memulihkan ciptaan, ia sedang belajar “jalan-jalan Tuhan” yang diajarkan Yesaya.

Walau demikian, pemeliharaan pribadi harus disertai perubahan yang lebih luas. Karena itu, Adven juga memanggil Gereja untuk melakukan advokasi ekologis: menjadi suara profetis yang memperjuangkan kebijakan yang adil, menolak eksploitasi alam, dan mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan selalu membawa dampak terbesar bagi mereka yang lemah. Advokasi bukan sekadar pilihan moral, tetapi bagian dari panggilan iman untuk mengubah struktur yang merusak menjadi struktur yang memberi hidup, sebagaimana visi Yesaya tentang pedang yang ditempa menjadi mata bajak.

Pada akhirnya, pemeliharaan dan advokasi ekologis menjadi bagian dari spiritualitas Adven itu sendiri. Menyalakan lilin pengharapan berarti menyalakan komitmen menjaga kehidupan. Menantikan Kristus berarti menata dunia agar layak disinari terang-Nya. Dan berjalan dalam terang Tuhan berarti hadir sebagai agen pemulihan bagi bumi dan seluruh ciptaan yang dipercayakan kepada kita.