Khotbah

Hidup sebagai Anak Terang

Oleh: Pdt. Dr. Irvan Hutasoit 14 Maret 2026 Kategori: Ibadah Minggu

Nas

Efesus 5:8-14

Salah satu tanda kegelapan dalam kehidupan manusia adalah ketika seseorang hidup tanpa arah yang jelas, meskipun secara lahiriah hidupnya terlihat berhasil. Kita sering melihat orang yang memiliki pekerjaan, jabatan, bahkan pengaruh dalam masyarakat, tetapi di dalam dirinya ada kegelisahan yang tidak pernah selesai. Ia bekerja keras, mengejar prestasi, dan terus bergerak dari satu tujuan ke tujuan lain, namun ketika semua itu tercapai, ia tetap merasa kosong. Ia hidup aktif, tetapi tidak benar-benar mengetahui makna hidupnya. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa manusia dapat menjalani kehidupan yang penuh aktivitas, tetapi tetap berada dalam kegelapan batin karena hidupnya tidak diterangi oleh kebenaran yang memberi arah bagi keberadaannya.
Kegelapan juga dapat muncul dalam kehidupan religius. Tidak jarang orang aktif dalam kegiatan gereja, berbicara tentang iman, bahkan terlibat dalam pelayanan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih hidup dalam ketidakjujuran, manipulasi, atau ketidakadilan. Refleksi seperti ini pernah ditegaskan oleh Dietrich Bonhoeffer ketika ia melihat gereja di Jerman pada masa rezim Nazi: banyak orang Kristen tetap beribadah, tetapi mengabaikan kejahatan yang ada di sekitarnya. Dari pengalaman itu ia menyadari, seseorang dapat berada di dalam struktur religius, namun tetap hidup dalam kegelapan jika hidupnya tidak sungguh-sungguh diterangi oleh kebenaran Kristus. Hidup yang bermakna, atau sesua tema saat ini, hidup dalam terang, terwujud jika setiap orang mau diarahkan oleh kebenaran Kristus.

Ketika kita membaca lebih dalam Efesus 5:8–14, kita segera menyadari bahwa rasul Paulus tidak sedang memberikan nasihat moral yang sederhana, seolah-olah ia hanya meminta jemaat untuk berusaha hidup lebih baik. Paulus sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu perubahan keberadaan manusia. Ia berkata, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.” (ayat 8). Kalimat ini sangat kuat karena Paulus tidak menggambarkan kegelapan hanya sebagai lingkungan atau keadaan yang mengelilingi manusia. Ia berbicara tentang kegelapan sebagai kondisi keberadaan manusia itu sendiri. Dalam bahasa ontologis, kegelapan bukan sekadar tindakan yang salah, tetapi cara manusia berada di dalam dunia ketika hidupnya terlepas dari sumber terang, yaitu Allah. Ketika manusia terpisah dari Allah, cara ia memahami hidup, cara ia melihat sesama, bahkan cara ia melihat dirinya sendiri menjadi kabur dan kehilangan arah.

Dalam perspektif filsafat ontologis, keberadaan manusia selalu terkait dengan sumber makna yang menerangi hidupnya. Ketika sumber itu hilang, manusia tetap hidup, tetapi keberadaannya menjadi tidak utuh. Ia bisa menjalani rutinitas, membangun relasi, bahkan menjalankan kehidupan religius, tetapi kehidupannya kehilangan orientasi yang sejati; bahkan semuanya itu berubah menjadi tindakan destrukif (merusak) dalam relasinya. Oleh karena itu, ketika Paulus mengatakan keberadaan jemaat Efesus sebelumnya beradala dalam kegelapan, ia sedang menggambarkan kondisi manusia yang hidup tanpa terang, sehingga seluruh keberadaan mereka kehilangan makna. Pesan yang disampaikan Paulus di sini bukan hanya tentang pengampunan dosa, tetapi tentang perubahan ontologis (keberadaan yang seutuhnya): manusia yang dahulu berada dalam kegelapan kini menjadi terang di dalam Tuhan. Terang itu bukan sekadar pengetahuan baru atau aturan moral baru, melainkan realitas hidup yang baru yang mengubah seluruh keberadaan manusia, yaitu realitas yang dijalani dalam terang Kristus.

Perubahan keberadaan ini kemudian tampak dalam cara hidup yang baru. Paulus melanjutkan dengan berkata, “Hiduplah sebagai anak-anak terang” (ayat 8). Identitas baru menuntut cara hidup yang baru. Karena itu ia berbicara tentang buah terang, yaitu kebaikan, keadilan, dan kebenaran (bnd. Ayat 9). Ketiga hal ini menggambarkan bagaimana terang Allah bekerja dalam kehidupan manusia. Kebaikan berbicara tentang sikap hati yang menghadirkan kehidupan bagi sesama. Keadilan menunjukkan bahwa terang Allah membentuk relasi sosial yang benar dan tidak menindas. Kebenaran menunjukkan bahwa hidup manusia menjadi transparan di hadapan Allah, tidak lagi diselimuti kepura-puraan atau kebohongan. Dalam terang ini manusia belajar untuk “menguji apa yang berkenan kepada Tuhan” (ayat 10). Paulus menggunakan kata Yunani dokimazō, yang berarti menguji atau membedakan sesuatu sampai terlihat nilai sejatinya. Dengan demikian, menjadi anak terang berarti memiliki kesadaran moral yang terlatih. Manusia terang bukan sekadar orang yang mengikuti aturan secara buta, melainkan orang yang mampu mendiskernasi kehendak Allah di tengah kompleksitas kehidupan. Di dunia modern yang dipenuhi berbagai suara, nilai, dan kepentingan, tidak semua yang tampak baik sungguh-sungguh benar. Karena itu hidup sebagai anak terang menuntut kedewasaan rohani untuk membedakan mana yang benar-benar berkenan kepada Tuhan.

Lebih jauh lagi, Paulus menjelaskan bahwa terang memiliki sifat yang khas: terang selalu menyingkapkan apa yang tersembunyi. Karena itu ia berkata agar orang percaya tidak mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuah, tetapi justru menyingkapkannya. Dalam perspektif ontologis, terang memiliki daya untuk membuat realitas menjadi terlihat sebagaimana adanya. Sesuatu yang tersembunyi dalam kegelapan akan tetap tidak terlihat sampai terang hadir. Demikian pula dalam kehidupan manusia dan masyarakat, banyak bentuk ketidakbenaran bertahan karena tersembunyi dalam kegelapan. Ketidakadilan, manipulasi, kepura-puraan, dan kekerasan sosial hanya dapat hidup ketika semuanya tersembunyi. Namun ketika terang hadir, semuanya menjadi terlihat. Di sinilah iman Kristen memiliki dimensi profetik: hidup sebagai anak terang berarti menghadirkan kehidupan yang membuka ruang bagi kebenaran.

Refleksi seperti ini juga sangat ditekankan oleh Dietrich Bonhoeffer. Ia hidup di tengah rezim Nazi di Jerman dan menyaksikan bagaimana banyak orang Kristen tetap pergi ke gereja, tetapi diam terhadap kejahatan yang terjadi di masyarakat. Dari pengalaman itu Bonhoeffer menyadari bahwa iman yang sejati tidak hanya berbicara tentang anugerah, tetapi tentang ketaatan yang konkret kepada Kristus. Ia menyebutnya costly grace, anugerah yang mahal. Artinya, terang Kristus tidak hanya menerangi hati manusia secara pribadi, tetapi menuntut keberanian untuk hidup dalam kebenaran, bahkan ketika hal itu membawa risiko. Bagi Bonhoeffer, menjadi murid Kristus berarti hidup sedemikian rupa sehingga kehadiran Kristus terlihat dalam tindakan nyata di dunia. Di situlah makna hidup sebagai anak terang menjadi nyata.

Teks ini kemudian mencapai puncaknya pada sebuah seruan yang sangat kuat: “Bangunlah, hai kamu yang tidur, bangkitlah dari antara orang mati, dan Kristus akan bercahaya atas kamu” (ayat 14). Seruan ini terdengar seperti panggilan untuk keluar dari keadaan tidak sadar menuju kehidupan yang benar-benar diterangi oleh Kristus. Banyak orang hidup, tetapi hidup seperti orang yang tidur. Mereka menjalani rutinitas, tetapi tidak sungguh-sungguh sadar akan panggilan hidup mereka. Paulus berkata: bangunlah. Ketika manusia bangun dari kegelapan, Kristus sendiri akan menjadi terang yang menerangi hidupnya. Dalam terang Kristus, manusia tidak lagi hidup dalam kebingungan eksistensial atau ketidakjelasan moral, tetapi hidup dalam kesadaran baru bahwa keberadaannya kini diterangi oleh kehadiran Tuhan sendiri.

Oleh karea itu, menjadi anak terang bukan berarti kita hidup tanpa kelemahan. Menjadi anak terang berarti membiarkan Kristus menerangi seluruh kehidupan kita. Ketika terang Kristus menyentuh hati kita, cara kita melihat dunia berubah. Kita belajar hidup dalam kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Kita belajar membedakan apa yang berkenan kepada Tuhan. Perlahan-lahan, kehadiran kita sendiri menjadi terang bagi orang lain. Dunia kita hari ini masih penuh dengan kegelapan: ketidakjujuran, ketidakadilan, dan ketakutan. Namun Tuhan tidak memanggil gereja hanya untuk mengutuk kegelapan dari jauh. Tuhan memanggil gereja untuk menjadi terang di tengah dunia.

Berdasarkan teks di atas, pertanyaannya bukan hanya apakah kita percaya kepada Kristus. Pertanyaannya adalah: apakah terang Kristus benar-benar terlihat dalam hidup kita? Jika kita hidup sebagai anak terang, maka di mana pun kita berada: di keluarga, di gereja, maupun di masyarakat, orang lain dapat melihat sesuatu yang berbeda: kejujuran yang tulus, kasih yang nyata, dan keberanian untuk hidup dalam kebenaran. Ketika itu terjadi, terang Kristus tidak hanya menerangi hidup kita. Terang itu mulai menerangi dunia di sekitar kita.