Setiap manusia pasti pernah merasakan kesendirian: momen ketika dunia terasa sunyi, masalah menumpuk, dan hati terasa berat tanpa tempat berbagi. Psikologi menegaskan, kesendirian bukan sekadar ketiadaan orang lain, tetapi pengalaman emosional yang mendalam: rasa ditinggalkan, cemas, atau terputus dari dukungan yang kita butuhkan. Saat kita berada di lorong gelap seperti itu, perasaan sendiri bisa terasa menyesakkan, membuat kita bertanya-tanya apakah ada yang benar-benar hadir dan peduli. Jumat Agung hari ini justru membuka tirai dan tabir kesendirian itu untuk meyakini keberadaan Yesus yang Sungguh Anak Allah walau Dia merasakan penderitaan dan kepahitan di Salib.
Bayangkan hari itu di Golgota. Dari jam keenam hingga jam kesembilan, siang menjadi gelap gulita (Mat 27:45). Alam semesta seolah ikut menanggung penderitaan yang sama dengan Sang Juruselamat. Dalam kegelapan itu, Yesus Sang Anak Allah, tergantung di salib, menanggung dosa dunia. Peristiwa fenomena alam tersebut mengundang kita untuk masuk ke ruang pengalaman Yesus, merasakan kesepian-Nya, kegelapan yang menelan, dan penderitaan yang begitu nyata. Gelap ini bukan hanya fenomena eksternal, tetapi pengalaman iman yang menuntut kehadiran batin kita di sisi-Nya.
Hari ini kita merenungkan kematian-Nya. Kita meratap bersama dengan teriakan-Nya: "Eli, Eli, lama sabaktani?", yang diterjemahkan: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Teriakan yang mengacu pada Mazmur 22 itu menyimpan misteri teologis: Yesus sebagai Anak Allah mengalami keterpisahan dari Bapa. Apakah Yesus, Sang Anak Allah, justru terpisah dari Sang Bapa dalam peristiwa Salib? Lantas, pada bagian lain nas Alkitab har ini justru menampilkan reaksi orang banyak dengan berkata, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” (ay. 54). Di salib seolah ada paradoks, Sang anak yang ditinggalkan dan pengakuan bahwa Dia sungguh Anak Allah. Walau demikian, Paradoks kematian Yesus di salib, di mana Ia mengalami keterpisahan dari Bapa namun diakui sebagai Anak Allah, menjadi penuntun bagi kita untuk meyakini kehadiran Allah dalam lorong gelap kehidupan, bahkan ketika muncul perasaan ditinggalkan.
Menariknya, pengaruh pengorbanan ini melampaui batas iman Kristen. Mahatma Gandhi, meskipun bukan seorang Kristen, mengakui, penyaliban Yesus adalah contoh pengorbanan dan cinta tanpa syarat. Ia melihat dalam penderitaan Yesus terdapat nilai moral yang tinggi, sebuah panggilan untuk keadilan dan kasih, yang dapat dirasakan oleh setiap hati manusia. Dengan demikian, pengalaman salib tidak hanya meneguhkan iman Kristen. Gandi menegaskan, penderitaan di Salib membuka ruang refleksi universal: penderitaan dan ketaatan Yesus mengundang setiap manusia, dari latar budaya atau agama manapun, untuk merenungkan makna pengorbanan, kasih, dan kehadiran Allah dalam hidup yang penuh kegelapan.
Dengan demikian, dari penderitaan Yesus yang berbicara lintas batas iman dan budaya, kita mulai melihat bagaimana pengalaman-Nya mengungkapkan realitas teologis yang mendalam. Penderitaan-Nya bukan sekadar fakta sejarah atau contoh moral; penderitaan itu adalah titik di mana identitas Yesus sebagai Anak Allah bersinggungan dengan misteri Allah yang tersembunyi. Dari perspektif ini, kita dapat memahami dengan lebih jelas teriakan-Nya di salib sebagai ungkapan yang menuntun kita memasuki kedalaman rahasia ilahi.
Yesus berseru, memanggil Bapa dengan kepedihan yang mendalam: "Eli, Eli, lama sabaktani?" (Mat 27:46). Teriakan itu bukan sekadar kata-kata putus asa, melainkan ekspresi pengalaman batin yang paling mendalam. Teriakan itu juga mengundang kita untuk merasakan keterpisahan yang Yesus alami, meresapi kegelapan yang menutupi dunia. Tentang hal ini, Martin Luther, dalam Teologi Salib, mengingatkan kita, Allah yang sejati tersembunyi dalam penderitaan, bukan dalam kuasa dunia. Artinya, momen penderitaan di salib yang tampak sebagai kelemahan dan kekalahan justru menjadi wadah penyataan identitas ilahi Yesus: Anak Allah memasuki pengalaman manusia, sekalipun pengalaman itu mencekam dan ibarat lorong yang gelap.
Lebih lanjut, Jurgen Moltmann menegaskan, di salib Yesus mengalami Deus Absconditus, Allah yang tersembunyi. Anak Allah yang sejati merasakan keterpisahan dari Sang Bapa. Jika Yesus adalah Anak Allah tetapi tidak luput dari penderitaan, bukankah itu sebuah paradoks? Paradoksnya adalah, mengapa Allah turut merasakan penderitaan? Bukankah Dia berkuasa mengatasi penderitaan? Ternyata paradoks itu terjawab melalui reaksi kepala pasukan yang menjaga saat itu, "Sungguh, Ia adalah Anak Allah" (ay. 54). Kondisi paradoks itu justru menuntun kita pada Deus Revelatus, Allah yang dinyatakan. Jika ayat 54 itu kita gunakan memahami ayat 46, maka kegelapan salib berubah menjadi terang: melalui penderitaan dan kematian-Nya, Anak Allah menunjukkan kasih dan kuasa Allah yang menyelamatkan.
Menajamkan refleksi ini, kita menyadari bahwa Deus Absconditus dan Deus Revelatus adalah wujud inkarnasi Allah. Athanasius, bapa gereja patristik, menegaskan dalam bukunya berjudul De Incarnate, inkarnasi Kristus bukan sekadar Allah mengambil rupa manusia, tetapi Allah sepenuhnya masuk ke dalam kondisi manusiawi, termasuk penderitaan dan kematian, agar manusia dapat diselamatkan. Dengan kata lain, Allah tidak hanya hadir secara simbolik, tetapi merasakan sepenuhnya kepedihan, kerapuhan, dan kesendirian manusia. Oleh karena itu, penderitaan Yesus di salib bukan tanda kekalahan, melainkan puncak ketaatan dan kasih: Allah, melalui Anak-Nya, memasuki dalam kegelapan lorong penderitaan manusia, bukan mencari manusia agar dihukum tetapi untuk ditebus.
Di sini kita melihat paradoks yang mendalam: Anak Allah ditinggalkan (Deus Absconditus, menderita, bahkan tampak kalah, namun melalui penderitaan itu dunia mengenal-Nya sebagai Anak Allah (Deus Revelatus). Ia sungguh manusia yang menderita sekaligus sungguh Allah yang menyelamatkan. Dari paradoks ini, kita belajar, penderitaan bukan akhir, tetapi jalan di mana Allah menyatakan kehadiran-Nya. Jika itu menjadi keyakinan bagi kita, maka perasaan sendiri ketika menghadapi lorong gelap: kesepian, kegagalan, atau kehilangan, telah dijawab oleh penderitaan Yesus di salib. Salib mengingatkan kita, Allah hadir dalam penderitaan kita, memahami kesedihan kita, dan menuntun kita menuju pengharapan. Dengan kata lain, Yesus yang sungguh Anak Allah itu, menyatakan kehadiran-Nya melalui lorong gelap yang sering kita alami untuk menyalakan percik-percik pengharapan bagi diri kita.
Paradoks Salib juga menguatkan iman kita: dalam penderitaan kita sendiri, Allah tidak meninggalkan kita. Anak Allah telah mengalami yang sama, masuk ke dalam kegelapan kita, dan melalui pengorbanan-Nya, membuka jalan keselamatan bagi setiap orang. Implikasi pastoralnya jelas: kita dipanggil untuk percaya dalam kegelapan, meneladani kesetiaan Yesus dalam penderitaan, dan mewartakan kasih yang menebus melalui tindakan nyata, baik dalam keluarga, komunitas, maupun dalam sikap kita terhadap sesama yang menderita. Dengan kata lain, Salib bukan hanya sejarah; itu adalah pedoman hidup, yang menunjukkan bahwa bahkan di lorong gelap kehidupan, kasih Allah nyata, menyertai, dan membimbing kita.
Dari sini, kita dapat menyadari bahwa ketika menghadapi kesulitan, kesedihan, atau kehilangan, menatap salib menjadi sumber pengharapan. Di salib, Yesus memahami penderitaan kita lebih dalam daripada yang bisa kita bayangkan. Allah yang tersembunyi (Deus Absconditus) tetap bekerja melalui setiap penderitaan, menegaskan kasih dan keselamatan-Nya. Bahkan ketika hidup terasa gelap, kesetiaan Yesus membuka jalan pengharapan bagi kita semua.
Hidup memang penuh tantangan dan ketidakpastian. Namun, pengakuan iman tetap sama: Yesus adalah Anak Allah, dan Ia menyertai kita di setiap langkah. Paradoks Salib, Yesus yang sungguh manusia mengalami kesendirian dan penderitaan, namun sungguh Allah yang menyelamatkan, menjadi pedoman hidup kita. Ia hadir dalam lorong gelap kehidupan, menyalakan percik pengharapan, dan menguatkan iman kita untuk tetap percaya, berharap, dan mengasihi.
Jumat Agung ini mengingatkan kita untuk menatap salib dan mendengar teriakan Yesus. Dalam kegelapan, kesendirian, dan penderitaan: Deus Absconditus ada penyataan: Deus Revelatus. Mari kita mengakui dengan iman yang sama seperti saksi di Golgota: “Sungguh, Ia Anak Allah!” (Mat 27:54) Salib bukan sekadar penderitaan; salib adalah lambang kasih Allah yang tiada tara, pengingat bahwa Allah hadir dalam penderitaan kita, dan janji pengharapan bagi seluruh umat manusia. Amin.