Izinkan saya mengawali renungan ini dari sebuah kisah nyata—kisah tentang bertahan hidup, ketakutan, doa, dan pengharapan. Kisah ini saya dengar langsung saat kunjungan pastoral ke Pandan pada tanggal 2–4 Desember 2025. Ia datang dari Hutanabolon, Lorong IV, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, sebuah kampung yang pada tanggal 25 November 2025 berubah secara tiba-tiba: dari ruang kehidupan yang akrab menjadi medan perjuangan antara hidup dan mati.
Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIB, hujan turun tanpa tanda-tanda akan berhenti. Pada awalnya, air hanya mengalir pelan memasuki kampung, seperti luapan biasa yang kerap terjadi. Pdt. Erik Sunando Sirait, Pendeta GKPI Resort Pasar Tukka, berada di rumah bersama putrinya, Shena, yang baru berusia enam tahun. Seperti banyak warga lainnya, ia mengira air itu hanya genangan sementara, sesuatu yang bisa ditunggu hingga hujan reda. Mereka memilih bertahan di rumah, berharap keadaan segera membaik.
Namun waktu berjalan dengan cara yang kejam. Air tidak surut, melainkan terus naik. Lumpur mulai menyusup ke dalam rumah, dingin dan pekat. Potongan-potongan kayu hanyut bersama arus yang kian deras. Setiap menit membawa ancaman yang semakin nyata. Ketika air mencapai batas yang tidak lagi bisa ditoleransi, Pdt. Erik dihadapkan pada keputusan yang paling sulit sekaligus paling naluriah: menyelamatkan putrinya.
Ia menggendong Shena dan bergegas menuju gereja, tempat yang selama ini menjadi ruang doa, pengharapan, dan rasa aman. Mereka memilih altar gereja sebagai tempat berlindung, seolah mendekatkan diri pada pusat iman akan memberi perlindungan. Namun bencana tidak mengenal simbol. Air terus meninggi. Batu-batuan menghantam. Lumpur semakin pekat. Gelondongan kayu datang silih berganti, menghantam dinding gereja seperti peluru meriam yang dilepaskan tanpa ampun.
Dalam situasi yang semakin genting, dengan tangan gemetar dan napas tertahan, Pdt. Erik menggendong putrinya erat-erat. Dengan peralatan seadanya, ia memanjat dinding gereja dan berusaha menjebol plafon, sebuah tindakan nekat yang lahir dari cinta seorang ayah dan naluri untuk bertahan hidup. Setelah plafon berhasil dijebol, ia mengangkat Shena lebih tinggi, memeluknya sekuat tenaga, lalu naik ke menara gereja. Di sanalah mereka berlindung, di ruang yang sempit, tinggi, dan rapuh, sementara di bawah, air dan lumpur menguasai segalanya.
Sehari penuh mereka bertahan di menara gereja. Tanpa makanan. Tanpa minuman. Waktu terasa seolah berhenti, sementara ketakutan terus bergelora di dalam dada. Untuk mengusir dahaga, Pdt. Erik menadahkan kedua telapak tangannya, mengumpulkan air hujan yang jatuh dari langit, lalu mengarahkannya ke mulut putrinya. Setiap tetes air menjadi tanda kehidupan. Di tengah situasi yang mencekam itu, ketika tidak ada lagi yang bisa diandalkan, ia mengajak Shena berdoa. Doa yang sederhana. Doa yang lahir bukan dari liturgi yang rapi, melainkan dari jeritan hati: agar Tuhan menyelamatkan mereka.
Menjelang sore, sekitar pukul 18.00 WIB, Pdt. Erik memberanikan diri turun dari menara. Sambil menggendong Shena, ia menerobos air yang hampir setinggi dada orang dewasa, melangkah di tengah lumpur yang berat dan licin, mencari tempat pengungsian sementara. Setiap langkah adalah pertaruhan antara harapan dan bahaya. Namun mereka berhasil. Mereka selamat dari kedahsyatan banjir bandang itu dan menemukan tempat perlindungan sementara.
Keselamatan itu, bagaimanapun, tidak datang tanpa luka. Menurut pengakuan Pdt. Erik, Shena mengalami trauma. Setiap hujan turun, tubuh kecilnya gemetar. Mantel dan payung, benda yang bagi kita tampak biasa, menjadi pemicu ketakutan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa bagi para penyintas, bencana tidak berhenti ketika air surut. Tubuh memang selamat, tetapi ingatan sering kali masih terperangkap dalam teror masa lalu.
Di sinilah kita melihat bahwa para penyintas bencana tidak hanya berjuang untuk hidup, tetapi juga untuk berdamai dengan pengalaman pahit yang membekas dan menata kembali pengharapan akan masa depan. Mereka membawa luka yang tidak selalu tampak, sekaligus harapan yang rapuh namun nyata.
Konteks inilah yang menyenter kedalaman makna bacaan kita hari ini, Mikha 7:7–13. Bacaan ini lahir dari dunia yang juga sedang runtuh, dari pengalaman iman yang terluka, dan dari jeritan manusia yang bertanya tentang kehadiran Allah di tengah kehancuran. Melalui teks ini, kita diajak untuk menyembuhkan pengalaman masa lalu—bukan dengan melupakannya, melainkan dengan menaruh pengharapan pada Allah yang menyelamatkan, Allah yang mendengar seruan dari menara-menara kerapuhan manusia.
Nada iman seperti inilah yang kita temukan dalam Mikha 7:7. Di tengah dunia yang runtuh, sang nabi berkata dengan suara yang tenang namun tegas: "Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku." Ketika Mikha berkata, "Aku akan menunggu-nunggu TUHAN," ia tidak sedang mengajak umat untuk menunda tanggung jawab atau menutup mata terhadap kehancuran. Penantian yang dimaksud Mikha adalah penantian yang sadar akan realitas. Dunia tetap rusak, luka tetap ada, dan masa lalu tidak bisa dihapus begitu saja. Namun di tengah situasi itu, Mikha memilih untuk menambatkan hidupnya pada Allah yang menyelamatkan, bukan pada kekuatan politik, ekonomi, atau moralitas semu yang telah runtuh.
Penantian ini mengajarkan bahwa pengharapan tidak identik dengan hasil yang cepat. Dalam pengalaman trauma, baik trauma pribadi maupun trauma kolektif akibat bencana, penyembuhan jarang terjadi secara instan. Luka batin membutuhkan waktu, ruang aman, dan relasi yang memulihkan. Mikha seolah berkata bahwa iman yang matang bersedia berjalan pelan, sambil terus percaya bahwa Allah mendengarkan. Pengharapan menjadi energi batin yang memungkinkan seseorang tetap berdiri ketika kakinya gemetar.
Kesadaran ini membawa Mikha pada pengakuan yang jujur: "Sekalipun aku jatuh, aku akan bangkit; sekalipun aku duduk dalam kegelapan, TUHAN akan menjadi terang bagiku" (Mi. 7:8). Ayat ini memperlihatkan dinamika iman yang realistis. Kejatuhan diakui, kegelapan tidak disangkal, tetapi keduanya tidak diberi kuasa terakhir. Dalam bahasa pastoral, iman tidak menghapus trauma, tetapi mencegah trauma mendefinisikan seluruh identitas seseorang. Dengan kata lain, mencegah trauma mengendalikan perjalanan hidup masa depan.
Pengakuan ini berlanjut dalam ayat 9, ketika Mikha berkata bahwa ia akan memikul murka Tuhan karena dosanya. Di sini, iman tidak bersifat defensif. Mikha tidak menyalahkan pihak lain, juga tidak memosisikan diri sebagai korban tanpa tanggung jawab. Namun yang penting, pengakuan dosa ini tidak berakhir pada rasa bersalah yang melumpuhkan. Mikha segera menegaskan, Allah yang sama akan membela perkaranya dan membawa dia ke terang. Ini adalah logika pemulihan Ilahi: Allah tidak mengurung manusia dalam masa lalu, tetapi menuntunnya keluar dari pengalaman masa lalu yang pahit itu.
Dalam terang bencana ekologis, ayat ini menantang kita untuk membaca penderitaan dengan kejujuran dan kerendahan hati. Banyak luka kolektif yang kita alami hari ini berakar pada pilihan-pilihan manusia yang merusak keseimbangan ciptaan. Namun pengakuan ini bukan untuk memperdalam rasa bersalah, melainkan untuk membuka ruang perubahan. Pertobatan ekologis menjadi bagian dari penyembuhan iman, bukan sekadar program lingkungan, tetapi pembaruan relasi dengan bumi sebagai rumah bersama.
Ayat 10 membawa kita pada suara ejekan: "Di mana TUHAN, Allahmu itu?" Pertanyaan ini kerap muncul setelah bencana, ketika doa terasa hampa dan pemulihan berjalan lambat. Kita tidak perlu memandang pertanyaan ini sebagai ancaman iman, melainkan sebagai bagian dari ekspresi iman yang terluka. Balah kita melihat pertanyaan itu sebagai perenungan mendalam terhadap kehadiran Allah di tengah proses panjang ketika manusia belajar kembali untuk merangkai hidup masa depan.
Pemulihan yang digambarkan dalam ayat 11–12 bukan pemulihan instan. Ada pembangunan kembali, ada proses pengumpulan, ada penataan ulang kehidupan bersama. Gambaran ini selaras dengan realitas penyintas trauma: hidup tidak kembali seperti semula, tetapi dibangun kembali dengan kesadaran baru. Pemulihan bukan kembali ke masa lalu, melainkan melangkah ke masa depan dengan cara hidup yang diubah, meskipun itu dilakukan secara peralahan.
Meskipun demikian, Mikha juga menambahkan peringatan keras dalam ayat 13: negeri akan menjadi tandus oleh karena perbuatan penduduknya. Ini menegaskan bahwa tanpa perubahan relasi dan cara hidup, pemulihan hanya akan bersifat sementara. Dalam konteks ekologis, peringatan ini menjadi sangat relevan. Luka alam tidak bisa disembuhkan tanpa perubahan sikap manusia terhadap bumi. Di sinilah iman, etika, dan tanggung jawab sosial bertemu.
Pada titik ini, pesan Mikha bergerak dari teks menuju kehidupan kita. Setiap orang membawa ingatan yang terluka, entah karena bencana, kehilangan, kekerasan, atau kegagalan. Seperti Shena yang gemetar ketika hujan turun, banyak orang hidup dengan pemicu trauma yang tidak terlihat oleh orang lain. Firman Tuhan tidak memaksa kita untuk segera kuat, tetapi mengundang kita untuk menunggu Tuhan dengan jujur, membawa luka kita apa adanya.
Pengharapan pada Allah yang menyelamatkan menjadi sarana untuk berdamai dengan masa lalu. Berdamai bukan berarti melupakan, melainkan berhenti hidup di bawah bayang-bayang ketakutan lama. Dalam pengharapan, luka tidak disangkal, tetapi dipeluk dalam terang kasih Allah. Pengharapan menolong kita melihat bahwa hidup tidak berhenti pada peristiwa yang menyakitkan.
Di sinilah gereja dipanggil menjalankan pastoral yang sejati. Gereja bukan hanya mengabarkan pengharapan, tetapi menjadi ruang aman bagi mereka yang terluka: ruang untuk bercerita, berduka, dan perlahan sembuh. Pendampingan pastoral, solidaritas ekologis, dan kepedulian sosial adalah wujud nyata dari iman yang menunggu Tuhan sambil bekerja untuk pemulihan.
Pada akhirnya, Mikha 7:7–13 tidak berhenti sebagai kesaksian iman personal sang nabi, melainkan berkembang menjadi panggilan pastoral bagi sebuah komunitas yang terluka. Pengharapan kepada Allah yang menyelamatkan selalu berdimensi komunal. Luka yang dialami manusia, baik luka akibat bencana ekologis maupun luka batin yang tersembunyi, tidak pernah sepenuhnya bersifat individual. Ia selalu berkaitan dengan cara kita hidup bersama, memperlakukan sesama, dan merawat bumi sebagai rumah bersama.
Karena itu, pastoral ekologis bukanlah tambahan di pinggir kehidupan gereja, melainkan bagian dari proses penyembuhan kolektif. Ketika alam rusak, manusia ikut terluka. Sungai yang meluap, hutan yang gundul, dan tanah yang kehilangan daya serap bukan hanya persoalan teknis, tetapi tanda relasi yang retak. Dalam terang Mikha, gereja dipanggil menjadi komunitas yang berani mengakui keterlibatan bahkan secara tidak sadar ikut berpartisipasi dalam kerusakan ini. Walau demikian, gereja sekaligus mengambil bagian aktif dalam setiap proses pemulihan. Merawat lingkungan, membangun kesadaran ekologis, dan membela kehidupan adalah bentuk nyata dari pengharapan yang bekerja.
Pastoral ekologis ini juga berarti menciptakan ruang aman bagi para penyintas. Gereja dipanggil untuk hadir bukan hanya setelah bencana, tetapi juga dalam proses panjang pemulihan: mendampingi yang trauma, memberi ruang untuk berduka, dan menumbuhkan harapan yang tidak memaksa orang "cepat kuat". Dengan demikian, gereja menjadi perpanjangan tangan Allah yang mendengarkan jeritan dari menara-menara kerapuhan manusia.
Namun panggilan pastoral ini tidak berhenti pada tingkat komunitas. Mikha juga berbicara kepada setiap pribadi. Setiap orang membawa luka masa lalu, entah yang terlihat maupun yang tersembunyi rapat di dalam hati. Ada ketakutan yang muncul kembali pada momen-momen tertentu, ada ingatan yang enggan pergi, ada pengalaman pahit yang terus membentuk cara kita memandang diri sendiri dan dunia. Firman Tuhan hari ini tidak menuntut kita menyangkal luka itu, tetapi mengundang kita untuk membawanya ke hadapan Allah yang menyelamatkan.
Pengharapan kepada Allah menjadi sarana penyembuhan personal. Ia mengajarkan kita untuk menunggu, bukan dengan putus asa, melainkan dengan kepercayaan bahwa Allah bekerja bahkan ketika kita belum melihat hasilnya. Dalam pengharapan, kita belajar berdamai dengan masa lalu, tetapi tidak membiarkan masa lalu itu menguasai dan mengendalikan masa depan. Luka tetap menjadi bagian dari sejarah hidup, tetapi tidak lagi menjadi pusat identitas.
Di sinilah pengharapan berfungsi sebagai jangkar yang kuat. Ia menahan kita ketika ingatan pahit menarik kita kembali ke dalam ketakutan. Ia memberi keberanian untuk melangkah, meski perlahan, menuju pemulihan. Dengan jangkar itu, kita tidak lagi hidup terombang-ambing oleh trauma, melainkan bertumbuh dalam kepercayaan bahwa hidup kita berada dalam genggaman Allah.
Mikha mengajarkan kita untuk berkata dengan iman yang jujur dan dewasa: "Aku akan menunggu TUHAN." Kalimat ini bukan tanda kelemahan, melainkan ungkapan keberanian. Keberanian untuk percaya bahwa Allah yang menyelamatkan masih bekerja—di dalam diri kita, di dalam komunitas kita, dan di dalam bumi yang terluka.
Oleh karena itu, sebagai gereja dan sebagai pribadi, kita dipanggil untuk hidup dalam pengharapan yang aktif: merawat ciptaan, mendampingi yang terluka, dan memberi ruang bagi proses penyembuhan. Di tengah dunia yang masih bergumul dengan luka lama dan luka baru, pengharapan pada Allah yang menyelamatkan menjadi jangkar bersama—yang meneguhkan langkah kita untuk berdamai dengan masa lalu dan melangkah ke masa depan yang dipulihkan.