Khotbah

Hidup yang Terus Menjadi, Damai yang Tetap Menyertai

Oleh: Pdt. Dr. Irvan Hutasoit 31 Desember 2025 Kategori: Ibadah Lainnya

Nas

2Tesalonika 3:16-18

Di penghujung tahun 2025, banyak orang merasakan bahwa waktu tidak sekadar berlalu, tetapi menekan. Hidup bergerak cepat, perubahan datang bertubi-tubi, dan kepastian terasa semakin rapuh. Kita hidup di dalam proses yang tidak selalu ramah: relasi yang melelahkan, pekerjaan yang menuntut, dunia yang penuh kecemasan. Filsafat waktu dan proses—sebagaimana dirumuskan oleh Alfred North Whitehead, membantu kita menamai pengalaman ini. Bagi Whitehead, realitas bukanlah benda yang selesai, melainkan peristiwa yang terus menjadi. Hidup adalah rangkaian proses, di mana setiap momen membawa warisan masa lalu dan membuka kemungkinan masa depan. Namun filsafat ini juga menyisakan kegelisahan eksistensial: jika segala sesuatu selalu berada dalam proses, di manakah manusia menemukan ketenangan yang tidak ikut tergerus oleh waktu?

Pertanyaan ini bukan hanya pertanyaan manusia modern; jemaat Tesalonika pun mengalaminya. Paulus menulis surat ini kepada komunitas yang hidup dalam ketegangan eskatologis. Mereka menantikan kedatangan Tuhan, namun justru terjebak dalam kegelisahan: sebagian menjadi apatis terhadap pekerjaan, sebagian lain diliputi kecemasan akan masa depan (bdk. 2 Tesalonika 3:6–12). Hidup mereka berada dalam proses waktu yang tidak stabil, antara harapan akan akhir zaman dan realitas sehari-hari yang keras. Dalam konteks inilah Paulus menyampaikan berkat yang sangat padat secara teologis: "Kiranya Tuhan damai sejahtera memberikan damai sejahtera-Nya kepada kamu senantiasa dalam segala hal" (2 Tes. 3:16a).

Bagi Paulus, "damai" bukanlah sekadar kondisi psikologis yang tenang. Kata eirēnē berakar pada konsep Ibrani shalom, yang menunjuk pada keutuhan hidup: relasi yang dipulihkan dengan Allah, sesama, dan diri sendiri. Damai tidak identik dengan ketiadaan konflik, melainkan kehadiran Allah yang memulihkan di tengah konflik. Karena itu Paulus tidak berkata bahwa Tuhan akan menghentikan proses pergumulan, tetapi Tuhan memberikan damai sejahtera-Nya "senantiasa dalam segala hal. Damai Paulus bersifat dinamis—ia hadir di dalam proses waktu, bukan di luar waktu.

Di titik inilah dialog dengan filsafat waktu dan proses menjadi sangat bermakna. Jika Whitehead melihat realitas sebagai rangkaian peristiwa yang saling memengaruhi, Paulus melangkah lebih jauh dengan menegaskan bahwa proses itu tidak netral secara teologis. Proses hidup berada dalam genggaman Tuhan yang setia. Dalam bahasa Paulus di tempat lain, "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan" (Roma 8:28). Artinya, waktu bukan sekadar arus impersonal; waktu adalah ruang karya Allah. Damai bukan hasil akhir dari proses, melainkan daya ilahi yang bekerja di dalam proses itu sendiri.

Hal ini semakin jelas ketika Paulus menyebut Allah sebagai "Tuhan damai sejahtera". Damai bukan sekadar pemberian, tetapi sifat relasional Allah sendiri. Dengan kata lain, di dalam setiap momen hidup yang sedang "menjadi", Tuhan hadir sebagai Pribadi yang menyertai. Inilah yang membedakan filsafat proses dari teologi Paulus. Filsafat proses menegaskan keterbukaan masa depan; Paulus menambahkan, keterbukaan itu diiringi oleh kesetiaan Allah. Masa depan memang belum selesai, tetapi ia tidak kosong dari kasih karunia.

Penegasan ini dipertegas Paulus melalui berkat penutup: "Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kamu sekalian" (2 Tes. 3:18). Kasih karunia di sini bukan hanya pengampunan atas masa lalu, melainkan tenaga eksistensial untuk menjalani waktu yang akan datang. Dalam perspektif Paulus, kasih karunia adalah realitas yang berjalan bersama umat—menyertai, menopang, dan membentuk setiap tahap proses hidup. Jika filsafat waktu berbicara tentang becoming, Paulus berbicara tentang becoming-with-God—menjadi bersama Allah.

Dengan demikian, damai menurut Paulus bukanlah titik henti dari waktu, melainkan cara berada di dalam waktu. Orang percaya tidak keluar dari arus sejarah, tetapi berjalan di dalamnya dengan kesadaran bahwa setiap momen hidup telah disentuh oleh kasih karunia. Tahun 2025, dengan segala luka, kelelahan, dan syukurnya—bukan tahun yang hilang, melainkan bagian dari proses pembentukan Allah atas umat-Nya. Damai itu bukan hanya milik masa lalu (pengampunan atas yang telah terjadi), tetapi juga tenaga rohani bagi masa depan yang belum kita ketahui. Melalui Damai, muncul pengharapan, Allah adalah kekuatan yang menyertai, menopang, dan mengarahkan.

Maka, memasuki tahun 2026, langkah pastoral yang dapat ditempuh menjadi jelas. Orang percaya dipanggil untuk tidak memusuhi proses, tetapi menghayatinya sebagai ruang kehadiran Tuhan. Kita belajar hidup setia dalam hal-hal kecil, bekerja dengan tanggung jawab, memelihara relasi, dan menjaga harapan—bukan karena waktu akan selalu ramah, tetapi karena Tuhan menyertai kita di dalam waktu. Dengan damai dan kasih karunia yang menyertai, orang percaya melangkah ke masa depan bukan dengan ketakutan, melainkan dengan iman yang tenang: hidup ini memang proses, tetapi proses yang dihidupi bersama Tuhan damai sejahtera.