Khotbah

Iman Pasca-Natal: Mengingat dan Berpartisipasi

Oleh: Pdt. Dr. Irvan Hutasoit 28 Desember 2025 Kategori: Ibadah Minggu

Nas

Mazmur 105:1-6

Natal sudah kita rayakan. Lagu-lagu Natal masih mungkin terngiang di kepala kita. Hidup kembali ke ritme biasa: bekerja, mengurus keluarga, menghadapi tanggung jawab yang menanti. Ada suasana khas setelah Natal: lebih tenang, bahkan kadang terasa kosong. Justru di ruang inilah sebuah pertanyaan sederhana muncul: apa yang tersisa setelah Natal berlalu? Apakah Natal hanya perayaan sesaat, atau ada sesuatu yang seharusnya terus hidup di dalam keseharian kita? Kita akan menjawab pertanyaan tersebut melalui satu pernyataan, Iman pasca-Natal bukan iman yang diam, melainkan iman yang bersuara—mengingat karya Tuhan, memperkenalkannya, dan berpartisipasi ke dalam inkarnasi Allah melalui kesaksian hidup di dunia.

Pertanyaan itu dijawab oleh Mazmur 105:1–6. Pemazmur membuka mazmurnya bukan dengan ajakan untuk diam dan merenung, melainkan dengan seruan yang keluar dan terbuka: "Bersyukurlah kepada TUHAN, berserulah kepada nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!" (Mazmur 105:1). Sejak awal, iman digambarkan bukan sebagai sesuatu yang tersembunyi dan privat, melainkan sebagai iman yang bersuara, bergerak keluar, dan menjumpai dunia.

Seruan ini kemudian dipertegas dengan ajakan yang sangat konkret: "Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!" (ay. 2). Mengimani Tuhan di sini bukan hanya memikirkan Tuhan di dalam hati, tetapi menceritakan karya Allah, yang dapat dilihat melalui kata percakapkanlah. Kata percakapkanlah menunjukkan, iman hidup dalam bahasa sehari-hari, dalam cerita, dan dalam relasi antar manusia. Karya Tuhan menjadi nyata ketika ia diceritakan.

Dari sini, pemazmur membawa kita lebih dalam pada makna batin dari tindakan itu: "Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! (ay. 3). Sukacita orang beriman tidak bergantung pada keadaan yang selalu mudah. Sukacita lahir dari identitas yang jelas: mereka tahu kepada siapa mereka mengarahkan hidupnya. Sukacita itu bertumbuh ketika karya Tuhan terus diingat dan diucapkan.

Pada titik ini mulai tampak bahwa Mazmur 105 tidak sedang mengajak umat mengingat secara pasif. Mengingat di sini adalah tindakan iman yang aktif dan hidup. Hal ini menjadi semakin jelas ketika pemazmur berkata: "Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (ay. 4), lalu langsung menyambungnya dengan perintah: "Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya" (ay. 5).

Urutan di atas sangat penting. Mencari Tuhan tidak dipisahkan dari mengingat perbuatan-Nya. Allah tidak dicari di ruang kosong atau di pengalaman abstrak, tetapi di dalam memori tentang bagaimana Ia telah dan terus bekerja. Iman berakar pada ingatan akan tindakan nyata Allah dalam sejarah.

Di sinilah filsafat ingatan menolong kita memahami kedalaman makna ini. Ingatan bukan sekadar tempat menyimpan masa lalu, melainkan proses yang membentuk siapa kita hari ini. Kita tidak hanya memiliki ingatan; kita dibentuk oleh apa yang kita ingat dan bagaimana kita mengingatnya. Ingatan bersifat selektif dan relasional: ia memilih cerita mana yang menentukan identitas kita.

Mazmur 105 menunjukkan bahwa umat Allah secara sadar memilih membangun identitas mereka berdasarkan karya Tuhan, bukan berdasarkan trauma, kegagalan, atau ketakutan. Karena itu, dalam Alkitab, mengingat (Ibr.: zakar) tidak pernah berarti sekadar membuka arsip sejarah. Mengingat selalu berarti membiarkan masa lalu Allah masuk ke masa kini umat.

Ketika pemazmur berkata, "ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya" (ay. 5), ia tidak sedang mengajak umat bernostalgia, melainkan menghadirkan kembali karya Allah sebagai realitas yang hidup dan efektif sekarang. Ingatan iman bersifat aktual dan performatif: dengan mengingat, umat menjadi kembali umat Allah.

Hal ini semakin jelas ketika kita memperhatikan bahwa pemazmur tidak memulai dengan perintah "ingatlah", melainkan dengan tindakan-tindakan publik: bersyukur, berseru, bernyanyi, menceritakan. Ini menunjukkan bahwa ingatan iman bersifat komunal dan liturgis. Umat mengingat karena mereka bersama-sama menceritakan karya Tuhan. Ingatan dibentuk melalui ibadah, nyanyian, dan kisah yang terus diulang dalam komunitas.

Mazmur ini juga lahir dari sejarah umat yang panjang dan tidak selalu mudah. Israel mengenal perbudakan, pengembaraan, dan penantian yang melelahkan. Namun pemazmur memilih untuk tidak memulai dari luka, melainkan dari karya Tuhan. Ini bukan pengingkaran terhadap penderitaan, tetapi pilihan iman: penderitaan ditempatkan di dalam cerita yang lebih besar, yaitu kesetiaan Allah yang terus bekerja.

Pilihan iman ini ditegaskan ketika pemazmur menyapa umat dengan identitas mereka: "Hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!" (ay. 6). Identitas umat tidak ditentukan oleh prestasi atau keadaan mereka, melainkan oleh relasi mereka dengan Allah yang berkarya dalam sejarah. Mereka tahu siapa mereka karena mereka tahu siapa Allah bagi mereka.

Di sinilah hubungan Mazmur 105 dengan Natal menjadi sangat kuat. Inkarnasi—Allah menjadi manusia—adalah salah satu perbuatan Tuhan yang paling menentukan dalam sejarah iman. Natal tidak dimaksudkan untuk berhenti sebagai perayaan tahunan. Natal perlu diingat, diceritakan, dan diperkenalkan. Jika Natal hanya dirayakan tanpa dimasukkan ke dalam memori iman, ia kehilangan daya membentuk hidup. Mazmur 105 menolong kita memahami, iman pasca-Natal adalah iman yang hidup dari ingatan. Oleh karena itu, Gereja dan setiap orang percaya dipanggil untuk memperkenalkan perbuatan Tuhan, bukan dengan sensasi atau kata-kata besar, melainkan dengan kesetiaan menceritakan bagaimana Allah hadir dan bekerja dalam hidup nyata: dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam kelelahan dan pengharapan.

Mengapa mengingat menjadi begitu penting? Karena mengingat bukanlah kegiatan netral. Ketika umat mengingat perbuatan Tuhan, mereka tidak sedang menoleh ke belakang dengan nostalgia rohani, melainkan menghidupkan kembali karya Allah di masa kini. Ingatan iman menjembatani karya Allah di masa lalu dengan kehadiran-Nya hari ini. Mengingat adalah tindakan yang kreatif dan partisipatif.

Dalam filsafat, ingatan dipahami sebagai tindakan menghadirkan kembali. Mengingat bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi tentang apa yang dihadirkan sekarang. Ingatan membentuk identitas dan arah hidup. Dalam terang ini, Mazmur 105 memperlihatkan bahwa umat Allah tidak hanya mengingat karya Tuhan sebagai fakta sejarah, tetapi menghadirkannya kembali sebagai realitas yang aktif dan membentuk cara hidup, berharap, dan bersaksi.

Di sinilah makna Natal menemukan kedalaman barunya. Inkarnasi bukan hanya peristiwa satu kali—Allah menjadi manusia dalam Yesus Kristus—melainkan cara Allah hadir dan bekerja di dunia. Ketika gereja mengingat dan memperkenalkan perbuatan Tuhan, gereja sedang berpartisipasi dalam gerak inkarnasi itu sendiri. Mengingat menjadi tindakan menghadirkan Allah ke dalam ruang-ruang kehidupan yang konkret.

Dengan bahasa teologis yang lebih konstruktif, gereja dipanggil bukan hanya untuk mengenang inkarnasi, tetapi untuk hidup sebagai ruang inkarnasi Allah. Gerak ini dapat kita sebut sebagai Anakarnasi, bukan inkarnasi yang menggantikan Kristus, tetapi partisipasi umat percaya dalam kehadiran Allah yang berinkarnasi. Allah yang pernah menjadi manusia kini menghadirkan diri-Nya melalui kehidupan umat-Nya.

Ketika gereja mengingat dan menceritakan perbuatan Tuhan, Allah tidak tinggal jauh di masa lalu. Ia hadir dalam tubuh komunitas, dalam relasi yang dipulihkan, dalam kesetiaan yang sederhana tetapi nyata. Di situlah inkarnasi terus berlanjut—bukan sebagai peristiwa spektakuler, melainkan sebagai kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Natal telah terjadi. Inkarnasi sudah dimulai. Sekarang, melalui tindakan mengingat dan memperkenalkan perbuatan Tuhan, gereja dipanggil untuk menjadi Anakarnasi: tubuh yang dengannya Allah terus hadir, bekerja, dan menyatakan kasih-Nya di tengah dunia. Di dunia yang mudah lupa, gereja yang mengingat adalah gereja yang menghadirkan Allah.