Khotbah

Tetap Berdoa

Oleh: Pdt. Dr. Irvan Hutasoit 07 Mei 2026 Kategori: Ibadah Minggu

Nas

Kolose 1:9-14

Di tengah kehidupan modern, banyak orang memahami doa hanya sebagai sarana untuk menyampaikan permintaan kepada Tuhan. Doa sering muncul ketika manusia sedang terdesak, takut, sakit, atau menghadapi pergumulan tertentu. Oleh karena itu, doa kadang menjadi sesuatu yang dilakukan hanya pada saat diperlukan. Kolose 1:9 memberi perspektif tentang doa, Paulus memperlihatkan pemahaman yang lebih dalam tentang doa. Paulus berkata: “Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu.” Dalam bahasa Yunani dipakai ungkapan: ou pauometha proseuchomenoi, “kami tidak berhenti berdoa.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa doa bukan aktivitas sesaat, melainkan kehidupan yang terus berlangsung di hadapan Allah. Tradisi Patristik juga memahami doa sebagai napas rohani orang percaya. Origen melihat doa sebagai orientasi hidup yang terus tertuju kepada Allah, sedangkan Agustinus dari Hippo memahami doa sebagai kerinduan hati manusia yang mencari perhentian di dalam Tuhan. Oleh karena itu, tema minggu ini, Tetap Berdoa, mengajak gereja untuk kembali menyadari bahwa doa bukan sekadar permintaan kepada Allah, tetapi cara hidup yang menjaga relasi manusia dengan Tuhan setiap hari. Selain itu, doa menjadi relasi spiritual dengan sesama. Dengan kata lain, dalam doa kita, terdapat relasi dengan sesama seperti dilakukan Paulus dalam bacaan ini.

Jemaat Kolose sendiri hidup dalam situasi yang penuh tantangan. Mereka menghadapi berbagai pengaruh pemikiran dan spiritualitas yang bercampur, termasuk kecenderungan mistik, penekanan pada pengalaman rohani tertentu, serta tekanan budaya yang dapat menggeser pusat iman mereka dari Kristus. Dalam konteks seperti itu, Paulus tidak pertama-tama memberikan strategi organisasi atau perdebatan intelektual yang panjang. Paulus justru memulai dengan doa. Hal ini menunjukkan bahwa bagi Paulus, ketika gereja menghadapi pergumulan, respons pertama orang percaya bukanlah kepanikan, melainkan membawa sesama ke dalam doa di hadapan Allah.

Hal itu ditunjukkan dalam Surat Kolose 1:9–14. Doa tidak hanya dipahami sebagai relasi vertikal dengan Allah, tetapi juga relasi horizontal dengan sesama. Paulus tidak sedang berdoa untuk dirinya sendiri, melainkan untuk jemaat yang ia kasihi. Di sini doa menjadi tindakan pastoral. Doa adalah bentuk perhatian, solidaritas, dan kasih terhadap sesama. Seseorang mungkin tidak selalu mampu menyelesaikan masalah orang lain secara langsung, tetapi ia tetap dapat hadir melalui doa. Dengan demikian, doa menjadi ruang di mana gereja saling menopang dalam kasih Kristus.

Pesan teologis yang disampaikan Paulus dalam bagian ini telah memperlihatkan bahwa doa berkaitan dengan pertumbuhan bersama dalam iman. Paulus berdoa supaya jemaat memperoleh “segala hikmat dan pengertian rohani” (ay. 9), hidup yang “layak di hadapan Tuhan” (ay. 10), serta “dikuatkan dengan segala kekuatan” (ay. 11). Dengan kata lain, Paulus berdoa agar jemaat di Kolose tetap kuat hidup di dalam Kristus di tengah berbagai tekanan yang mereka hadapi. Artinya, doa bukan hanya meminta berkat individual, tetapi mengarahkan komunitas kepada kedewasaan rohani bersama.

Dalam doanya, Paulus sebenarnya sedang mengambil bagian dalam kualitas hidup rohani jemaat Kolose. Ia hadir bersama mereka melalui doa-doanya. Meskipun tidak selalu berada secara fisik di tengah jemaat, Paulus tetap menyertai mereka secara spiritual dengan terus membawa kehidupan mereka ke hadapan Allah. Oleh karena itu, doa menjadi bentuk kehadiran pastoral yang nyata. Doa bukan hanya percakapan pribadi manusia dengan Allah, melainkan juga tindakan kasih kepada sesama. Melalui doa, Paulus menunjukkan bahwa kehidupan rohani jemaat Kolose bukanlah pergumulan mereka sendiri, tetapi pergumulan yang turut ia tanggung dan ia bawa terus di hadapan Tuhan.

Dalam perspektif filsafat kehadiran, tindakan Paulus ini memperlihatkan bahwa kehadiran manusia tidak selalu harus dipahami secara fisik. Kehadiran juga dapat bersifat eksistensial dan relasional. Paulus memang berada jauh dari jemaat Kolose, tetapi melalui doa ia tetap hadir di dalam pergumulan mereka. Ia tidak membiarkan jemaat itu berjalan sendiri menghadapi tekanan hidup dan tantangan iman. Dengan terus mendoakan mereka, Paulus menghadirkan dirinya di tengah kehidupan rohani jemaat tersebut. Di sini doa menjadi bentuk solidaritas dan kebersamaan dengan sesama.

Pemikiran Martin Buber dapat membantu memahami kedalaman relasi ini. Dalam konsep I–Thou, Buber menekankan bahwa manusia menemukan makna terdalam kehidupannya ketika ia sungguh hadir bagi yang lain, bukan memperlakukan sesama sebagai objek (I–It), melainkan sebagai pribadi yang dihayati dalam relasi. Dalam terang pemikiran ini, doa Paulus bukan sekadar kewajiban religius, tetapi bentuk relasi personal dengan jemaat Kolose. Paulus tidak menjadikan jemaat itu sekadar objek pelayanan atau angka keberhasilan misinya. Ia sungguh hadir bersama mereka dalam kasih dan pergumulan mereka melalui doa. Dengan demikian, doa menjadi tindakan solidaritas rohani, yakni kesediaan untuk berjalan bersama sesama di hadapan Allah.

Pemahaman tentang doa sebagai kehadiran dan solidaritas bersama sesama ternyata tidak hanya dapat dibaca melalui perspektif filsafat relasional, tetapi juga memiliki akar kuat dalam spiritualitas gereja mula-mula. Tradisi Kristen awal melihat doa bukan sekadar praktik individual, melainkan tindakan kasih yang menghubungkan kehidupan orang percaya satu dengan yang lain di hadapan Allah. Karena itu, doa dipahami sebagai bentuk persekutuan spiritual yang membangun dan menopang komunitas iman.

Tradisi Patristik juga memahami dimensi komunal dari doa ini. Yohanes Krisostomus misalnya menekankan bahwa doa bagi sesama merupakan tanda kasih Kristen yang paling mendalam. Bagi Krisostomus, seseorang belum sungguh mengasihi apabila ia hanya menunjukkan perhatian melalui kata-kata atau perasaan simpati semata. Kasih yang sejati akan membawa kehidupan sesamanya ke hadapan Allah. Karena itu, ketika orang percaya berdoa bagi orang lain, ia sebenarnya sedang mengambil bagian dalam pergumulan dan kehidupan orang tersebut. Doa menjadi bentuk solidaritas rohani.

Pemikiran Krisostomus ini memperlihatkan bahwa doa bukan tindakan yang individualistis. Dalam doa, manusia keluar dari dirinya sendiri dan memberi ruang bagi kehidupan sesamanya di dalam hati dan kesadarannya. Orang yang berdoa bagi sesama sedang mengatakan bahwa penderitaan, kelemahan, dan pergumulan orang lain bukan sesuatu yang asing baginya. Di sinilah doa menjadi bentuk kehadiran. Meskipun tidak selalu dapat hadir secara fisik, seseorang tetap dapat hadir secara spiritual melalui doa-doanya. Karena itu, ketika Paulus terus mendoakan jemaat Kolose, ia bukan hanya menjalankan kewajiban apostoliknya, melainkan sedang memperlihatkan kasih pastoral yang nyata. Paulus hadir bersama jemaat itu melalui doa, menopang mereka secara spiritual agar tetap kuat hidup di dalam Kristus.

Melalui bacaan Kolose 1:9-14 ini, kita diajak untuk melihat kembali makna doa dalam kehidupan bersama. Jika selama ini doa dipahami hanya sebagai kebutuhan pribadi: berdoa untuk kesehatan diri sendiri, pekerjaan sendiri, atau pergumulan sendiri, tetapi hari ini kita disadarkan, doa adalah wujud solidaritas dan kehadiran kita bagi yang lain. Dari pesan Pastoral Paulus dalam bacaan ini telah ditunjukkan, doa juga merupakan tindakan kasih kepada sesama. Paulus tetap berdoa bagi jemaat Kolose agar mereka kuat hidup di dalam Kristus. Doa menjadi cara menghadirkan diri bagi kehidupan orang lain.

Oleh karena itu, tema minggu ini, Tetap Berdoa, bukan hanya ajakan untuk rajin berdoa secara pribadi, tetapi juga panggilan untuk tetap saling mendoakan. Dalam kehidupan bergereja, ada banyak orang yang sedang memikul pergumulan: ada yang lelah, sakit, kehilangan pengharapan, mengalami tekanan hidup, atau sedang goyah imannya. Tidak semua pergumulan itu terlihat. Sebagai tubuh Kristus, gereja dipanggil untuk tidak membiarkan sesamanya berjalan sendirian. Salah satu bentuk kehadiran yang paling sederhana tetapi paling dalam adalah membawa sesama ke dalam doa.

Kadang-kadang manusia merasa tidak mampu melakukan banyak hal bagi orang lain. Kita mungkin tidak selalu mempunyai jawaban, solusi, atau pertolongan yang besar. Namun melalui doa, orang percaya tetap dapat hadir dan mengambil bagian dalam kehidupan sesamanya. Doa membuat gereja menjadi persekutuan yang saling menopang, bukan kumpulan individu yang berjalan sendiri-sendiri. Ketika jemaat tetap saling mendoakan, di situlah kasih Kristus terus hidup dan bekerja di tengah persekutuan. Oleh sebab itu, firman Tuhan pada minggu ini mengingatkan: tetaplah berdoa. Tetaplah berdoa bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi sesama. Sebab melalui doa, gereja belajar hidup dalam kasih, solidaritas, dan persekutuan yang dikuatkan oleh Tuhan sendiri.